perubahan sampoerna di tangan philip morris

Saat diakuisisi, HMS telah menjadi milik atau bagian dari PMI. Namun, kedua pihak ini masih membawa corporate culture mereka masing-masing yang sering perlu waktu cukup lama untuk melebur, apalagi ini adalah global acquisition. Faktor shock, anxiety, dan stress sering menghantui. Maka setelah akuisisi, tentu saja PMI melakukan beberapa perubahan untuk menyatukan budaya kedua perusahaan.

Transformasi Nilai Organisasi

LIFE HEALTH-QUITSMOKING 2 DEJika suatu organisasi bisnis berniat kuat melakukan perubahan menuju efisiensi dan efektifitas serta membangun kemampuan fleksibilitas yang tinggi, maka organisasi tersebut secara mendasar perlu menyesuaikan nilai-nilai organisasi yang lama dengan nilai-nilai organisasi yang baru yang cocok dengan kebutuhannya untuk berubah menjadi fleksibel, inovatif dan efisien.

Organisasi seperti HMS merupakan contoh sebuah perusahaan lokal yang membangun organisasinya menjadi setara dengan kelas global. Perjalanan panjang transformasi kultur dan penanaman nilai-nilai baru organisasi mereka telah mulai diletakkan landasannya pada tahun 1994 dan kini kita semua bisa menyaksikan betapa solid dan kuatnya pertumbuhan bisnis maupun praktek organisasinya. Terutama pasca akuisisi HMS oleh perusahaan multinasional PMI, di mana HMS kemudian meraih omzet sebesar Rp 29,55 triliun, laba bersih Rp 3,53 triliun pada tahun 2006 dan mulai menggeser dominasi Gudang Garam dalam merebut pangsa pasar industri rokok domestik.

Takut Pada Perubahan

Dalam konteks perusahaan publik, perpindahan kepemilikan saham bukan hal baru bagi HMS. Pergantian kepemilikan itu sebenarnya terjadi setiap saat. Pasar saham itu berjalan dari menit ke menit, pemegang sahamnya juga berganti setiap saat. Jadi, tidak ada yang istimewa dari transaksi penjualan saham keluarga Sampoerna ke pihak PMI. Tapi kali ini yang dijual adalah saham pendiri, sehingga hal ini menjadi sedemikian spesial dan signifikan.

Bagi sebagian besar karyawan HMS, sosok Putera Sampoerna tidak hanya sebatas pemimpin perusahaan, tapi juga sebagai orang tua yang layak dijadikan panutan. Transaksi penjualan seluruh saham keluarga Sampoerna yakni sebesar 98% kepada PMI dikhawatirkan akan merusak suasana harmonis yang selama ini telah tercipta. Hal yang dikhawatirkan manajemen HMS adalah menurunnya motivasi karyawan. Pasalnya, salah satu hal yang akan terbesit di benak orang ketika perusahaan multinasional mengakuisisi perusahaan lokal adalah efisiensi. Mereka khawatir akan ada pengurangan karyawan. (Ginting, Yos Adiguna, 2007).

Dengan menggunakan tangan dihasilkan 350 batang rokok/jam, sementara mesin mampu menghasilkan 8.000 batang/menit. Jadi, satu mesin kira-kira sama dengan 1.500 orang. Hal inilah yang cukup menakutkan karyawan HMS ketika pertama kali akuisisi. Mereka takut sekian puluh ribu orang diganti dengan 5-6 mesin.

Namun ketakutan karyawan ini dianulir oleh manajemen HMS. Manajemen HMS menekankan bahwa perusahaan akan selalu memberikan win-win solution. Hal ini dijelaskan oleh Putera Sampoerna kepada para petinggi HMS. Petinggi HMS langsung mengumpulkan jajarannya untuk menyampaikan informasi tersebut, kemudian bergulir ke bawah. Di sini dipakai model change agent, menyampaikan informasi mulai dari satu kelompok kecil, kemudian membesar dan terus membesar. Khusus kepada tukang linting, salah satu petinggi HMS langsung ke Surabaya menyampaikannya ke supervisor-supervisor.

Mempertahankan Yang Sudah Baik

Mempertahankan yang sudah baik merupakan cara tepat PMI dalam berinvestasi di Indonesia. Yakni tetap menjaga perasaan dan kebanggaan lokal, melibatkan masyarakat sekitar dalam pengembangan industrinya, dan padat karya.

  • Citra dan Nama Besar Sampoerna. Jika perusahaan multinasional praktis meleburkan nama atau mencantumkan nama besar mereka pada logo atau produk perusahaan yang diakuisisinya, PMI malah sebaliknya. Martin King, presiden direktur HMS menegaskan bahwa logo Sampoerna tetap dipertahankan, karena citra dan nama Sampoerna sudah besar. Hal ini tidaklah mengherankan. Karena saat PMI mengakuisisi 98% saham HMS, PMI membayar Rp 48T, padahal aset HMS hanya Rp 12T. Hal ini menunjukkan bahwa PMI sebenarnya membeli Brand Equity Sampoerna yang Well Known Brand. Selain itu, nama besar Sampoerna tetap dipertahankan, karena citra rokok kretek adalah milik Sampoerna, bukan milik PMI.
  • Padat Karya. Citra rokok kretek identik dengan padat karya. Lazimnya, bagi perusahaan multinasional, mesin merupakan pilihan cepat, efektif dan efisien ketimbang sebuah industri padat karya. Tapi PMI tidak berpikir untuk menggantikan tangan pelinting kretek dengan mesin. Apalagi diakui PMI bahwa sistem padat karya dan pola kemitraan memberikan banyak benefit, bahkan HMS pasca-akuisisi sudah menikmati pertumbuhan penjualan hingga 44 persen pada tahun 2005. Selain itu, Martin King juga tetap mempertahankan manajemen yang sudah ada di HMS. Martin King hanya membawa 14 anggota staf, termasuk dirinya. Semua anggota staf PMI melebur, larut ke dalam pola kerja dan sistem yang sudah tercipta di Sampoerna.

”Yang terpenting bagi PMI, adalah mengintegrasikan kelebihan sehingga mampu menghasilkan sinergi yang meningkatkan kinerja secara keseluruhan. Citra dan kebanggaan akan merek dari satu cita rasa lokal tidak perlu diganggu, karena justru itulah yang kami dibeli. Kami datang untuk membeli harta karun ini. Jadi, jangan sampai kami merusaknya. Sebisa mungkin kami justru meningkatkan nilainya. Semakin meningkatkan apa yang sudah baik ini” (King, 2005).

Dampak Perubahan

Melepas Alfamart Sang Kekasih

Selain mengandalkan jaringan distribusi Panamas, HMS juga mengandalkan jaringan Alfamart. Dengan ribuan gerainya, HMS bisa menggunakan minimarket ini sebagai jalur distribusi dan alat promosi yang andal. Namun HMS sudah mengumumkan ke BEJ untuk melepas Alfamart. Padahal PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT) yang mengelola jaringan minimarket Alfamart mampu memberikan kontribusi yang cukup lumayan untuk HMS. Jaringan minimarket ini membukukan pendapatan yang lumayan besar setiap tahunnya dan kontribusinya menduduki peringkat ketiga setelah pabrik rokok dan distribusi.

Setelah melepas Alfamart, hubungan kemitraan HMS dengan Alfamart mulai terputus. HMS tak lagi memperoleh hak pemasangan overhead dispenser (OHD) –medium logo sponsor di gerai-gerai Alfamart. Logo yang dipasang justru Djarum dan Bentoel, dua pesaing HMS.

Hal ini memang sebuah perubahan dramatis. Pasalnya, berkembangnya jaringan Alfamart tak bisa dilepaskan dari jasa Putera Sampoerna. Sebaliknya, meraksasanya HMS juga tak bisa mengabaikan peran penting Djoko Susanto (selaku pemilik dan pendiri Alfamart perusahaan afiliasi HMS) yang amat berperan dalam membangun jaringan distribusi dan penjualan produk-produk HMS. Sebagai informasi, selama bertahun-tahun Djoko memimpin PT Panamas, distributor produk-produk HMS.

Djoko menjelaskan bahwa dirinya tak bisa lagi mempertahankan hubungannya dengan HMS, karena setelah diakuisisi oleh PMI, banyak kebijakan terhadap Alfamart yang diubah. Contohnya, jaringan minimarket Alfamart kini tak lagi mendapat hak eksklusif dalam menerima pasokan produk-produk HMS dan kuota yang diterimanya juga menyusut. Alfamart hanya menerima pasokan produk sepersepuluh dari pasokan biasanya. Alfamart merasa dirugikan karena jumlah produk yang dikirim tak dapat memenuhi kebutuhan. Padahal selama ini pihak Alfamart sangat lunak terhadap HMS, karena ada kedekatan emosional. Sayangnya kini kondisi itu sulit diperbaiki.

Putusnya hubungan Alfamart-HMS menginformasikan bahwa HMS sekarang memang benar-benar dikelola oleh tim manajemen baru.

Diet Baru ala HMS-PMI

Saat ini, ada sekitar 31 perusahaan yang bernaung di bawah HMS. Menurut data Bursa Efek Surabaya, 18 di antaranya masih terkait dengan bisnis inti. Sisanya merupakan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari jasa perdagangan, teknologi informasi, investasi, properti, makanan dan minuman olahan, percetakan, hingga transportasi. Perusahaan-perusahaan inilah yang terancam dicoret dari portofolio Sampoerna. Boleh jadi, rencana pelepasan sejumlah anak Sampoerna itu dikarenakan kinerjanya tidak terlalu bersinar atau karena PMI ingin kembali ke bisnis inti.

  • PT Taman Dayu, perusahaan properti di Malang, Jawa Timur sejak berdiri pada tahun 1990 boleh dibilang masih merugi. Direksi PMI tampaknya sudah gerah melihat performancenya dan tersirat bakal melepas PT Taman Dayu.
  • PT Sampoerna Food Product Nusantara (di sektor pengolahan makanan dan minuman) dan PT Wahana Sampoerna (di sektor konstruksi) juga dihentikan.
  • PT Agasam, yang mengelola sejumlah restoran/kafe dan toko merchandise dengan label A Store™. Saat ini, toko yang berdiri sejak tahun 2003 itu sudah memiliki 8 cabang yang tersebar di Jakarta dan Surabaya. Berbagai pernak-pernik merchandise seperti kaus, topi, asbak, dompet, tas (semuanya berlogo huruf A) ada di sini. Menurut Gitardo Hardoyo, General Manager A Store™, untuk membangun satu toko ini dibutuhkan biaya investasi sebesar Rp 500 juta. Dengan penghasilan satu toko minimal Rp 200 juta per bulan, ia optimistis tahun ini seluruh toko tersebut sudah balik modal. Kendati kontribusi buat induk perusahaan sangat kecil, outlet ini sangat menguntungkan. Namun kemungkinan juga akan dilepas oleh PMI.
  • Di bidang perdagangan, HMS memiliki berbagai perusahaan investasi di berbagai negara, antara lain Bursa Tobacco Corporation, Sampoerna Investment Corporation, Vinasa Investment Corporation, dan Sampoerna Latin America yang seluruhnya berpusat di British Virgin Islands yang mungkin juga akan dilepas.

2 thoughts on “perubahan sampoerna di tangan philip morris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s