Analisis Industri Rokok Nasional 2007-2008

Daya tarik dalam suatu industri akan mengundang pemain untuk terjun dan mencari keuntungan. Besarnya tingkat profitabilitas yang diharapkan dari suatu industri mempengaruhi banyaknya pemain dan intensitas persaingan antar pemain dalam industri tersebut.

Salah satu cara untuk mengetahui level profitabilitas yang diharapkan dari industri tertentu adalah menggunakan Porter’s Five Forces Model of Industry. Lima kekuatan yang dalam industri tersebut adalah: rivalry among existing firms, threats of substitute products of services, bargaining power of buyers, bargaining power of suppliers dan threats of new entrants.

Rivalry among existing firms

Persaingan dalam industri dibentuk oleh pemain yang ada dan intensitasnya ditentukan oleh banyaknya jumlah pemain. Jumlah pemain dalam industri rokok cukup banyak, namun industri ini didominasi oleh HMS, Gudang Garam, Djarum, PMI, BAT Indonesia dan Bentoel. Dengan komposisi tersebut, intensitas persaingan secara langsung terjadi pada pemain dominan dimana masing-masing berupaya untuk meraih posisi market leader. Menurut majalah SWA, pertumbuhan industri rokok sebesar -0,3% th 2006; 1,9% th 2007; dan diramalkan 28% th 2008. (Suryadi, 2008)swot6

Faktor persaingan berbanding terbalik dengan profitabilitas. Saat persaingan semakin besar, maka profitabilitas semakin kecil, karenanya pemain butuh usaha ekstra keras untuk meningkatkan product differences dan brand identity.

Threat of new entrants

Untuk memasuki pasar rokok nasional, harus diperhatikan adanya economics of scale, proprietary product differences, brand identity, capital requirement, access to distribution, absolutes cost advantages, proprietary learning curve, access to necessary input, government policy dan expected retaliation. Sehingga pemain baru berskala kecil dan tidak memiliki modal yang cukup besar, akan kesusahan masuk ke dalam industri rokok.

Bargaining power of buyers

Kekuatan pembeli dalam suatu industri dipengaruhi oleh banyaknya pembeli dan besarnya pembelian individu, standarisasi produk dan kemampuan pembeli untuk memproduksi sendiri. Pada industri rokok, kekuatan pembeli secara individual tidak cukup besar untuk mempengaruhi industri, namun pembeli secara bersama-sama menentukan trend produk yang harus dipenuhi oleh produsen rokok. Tetapi dalam industri rokok, kekuatan pembeli tidak terlalu mengancam, karena rokok adalah masalah taste. Jika konsumen sudah suka dengan taste suatu rokok, maka Ia akan susah pindah ke lain hati.

Threats of substitute products of service

Salah satu ancaman dalam industri rokok kretek adalah tingwe atau tembakau shag (iris). Orang Jogjakarta umumnya tahu istilah tingwe, kependekan dari linting dewe, yaitu kegiatan meracik atau melinting sendiri tembakau untuk kemudian diisap. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu tatkala rokok dengan kemasan seperti zaman sekarang belum jadi industri.

Sejak beberapa tahun belakangan tembakau untuk keperluan tingwe ini mulai marak, terutama di Jogjakarta. Penggemarnya bukan lagi kalangan orang tua, justru para anak muda. Yang dicari agaknya adalah sensasi meramu sendiri tembakau itu. Plus keasyikan melintingnya menjadi bentuk yang benar-benar personalized, sesuai keinginan si individu, ditambah lagi sebagai semacam nostalgia ke zaman dahulu kala.

Kini di Jakarta, warung atau toko yang menjajakan tembakau tingwe pun mulai dapat ditemukan di sejumlah kawasan. Ada yang berupa tempat kongkow-kongkow, ada juga yang mirip toko manisan dengan stoples-stoples besar berjajar di rak-raknya.

Tingwe bermain di strategi low cost, maka harganya murah meriah. ”Sekarang ini jaman prihatin. Harga-harga naik, daya beli menurun. Keuangan keluarga harus dihemat. Sementara kebutuhan merokok tidak mungkin distop. Nah, Tingwe bisa jadi solusinya. Bisa hemat sampai 60%.”

Harga rokok tingwe berkisar dari Rp 13 ribu-15 ribu per 60 batang atau rata-rata Rp 200-250 per batang. Bandingkan dengan harga rokok standar yang umumnya sudah dua kali atau bahkan tiga kali lebih mahal. Rasa rokok tingwe tak kalah dengan rokok bermerek, karena tingwe ini memang dihasilkan oleh produsen-produsen rokok berpengalaman dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bedanya produsen ini bergerak secara rumahan. Kertas lintingnya sendiri sangat persis dengan rokok-rokok kemasan standar. Baik yang kretek maupun non kretek. Tak mengherankan bila nama-nama produk rokok tingwe ini mirip dengan merek rokok ternama. Misalnya ada yang dinamai Malioboro (plesetan Marlboro), Samsuri dan Samsi (plesetan dari Dji Sam Soe), Mail (plesetan dari Mild) dan sebagainya.

Dari tahun ke tahun permintaan rokok terus meningkat. Tahun 1985 permintaan rokok baru 100 miliar batang. Pada tahun 2005 sudah 220 miliar batang. Perokok pemula di Indonesia tumbuh paling pesat sedunia yakni 44% usia 10-19 tahun dan 37% usia 20-29 tahun. Bisnis rokok pun meraksasa. Tetapi harganya pun turut naik seiring dengan makin banyaknya beban yang ditanggung korporasi produsennya, mulai dari biaya iklan, distribusi hingga cukai. Dengan demikian, rokok tingwe jadi alternatif, karena menjanjikan penghematan.

Dari sisi konsumen, harganya jelas jauh lebih murah, sementara rasa dan kemasannya tak jauh berbeda dengan rokok kemasan. Dari sudut produsen, tembakau untuk tingwe ini bisa hadir dengan harga miring karena aneka biaya sudah dipangkas. Mulai dari biaya linting, biaya overhead pabrik, biaya kemasan, biaya iklan, biaya distribusi, biaya administrasi, biaya umum dan lain-lain. Perjalanan tembakau dipersingkat. Setelah tembakau diracik dan dikenakan cukai, tembakau tidak dilinting, dikemas dan diedarkan oleh pabrik rokok, tapi langsung dihadirkan ke konsumen untuk dilinting sendiri melalui jaringan warung tembakau rokok tingwe. Membuat tingwe sangat gampang, modalnya tembakau paper, filter, lem dan alat linting. Sementara rasa dan modelnya bisa diatur sesuai selera, malah bisa pakai filter juga.

Produsen tingwe bisa industri rumahan bisa juga pabrik. Tembakau lintingan buatan pabrik menjumpai konsumen dalam berbagai merek. Tembakau mole khas Tasikmalaya misalnya dikenal lewat merek Cap Apel dan Bunga Matahari. Sementara tembakau Jawa lewat Harum 78, Countrymen dan lain-lain. Semuanya dikemas dengan rapi, rata-rata beratnya 50-60 gram. Ada juga yang dijual dalam kemasan kiloan.

Menurut majalah SWA, peta pemain di industri ini amat beragam. Mulai dari kelas rumahan, industri kecil sampai yang besar. Menurut catatan Gabungan Pengusaha Tembakau Iris Indonesia (Gaptindo), saat ini pemain terbesar di industri ini adalah Sriwijaya milik Soehono SW Candra yang berbasis di Surabaya. Perusahaan ini menguasai sekitar 50% pasar bisnis ini. Kemudian disusul ITIC yang berpusat di Malang, Nyata LTD yang berbasis di Surabaya, Harum Sari Kencana milik Kosasih di Solo, Putra Djaya Tarumartani, Puri Pandan, Sumber Ampenan dan Kali Jernih Rothman. swot7

Peran Pemerintah Dalam Menentukan Profitabilitas Industri

Porter’s Five Forces Model of Industry disempurnakan oleh Oster yang berpendapat bahwa analisis Michael Porter hanya mengungkapkan peran pemerintah secara eksplisit. Padahal menurut Oster, regulasi pemerintah bisa memiliki efek dramatis dalam sebuah industri.

  1. Undang-undang yang mengatur pengendalian tembakau: adanya penetapan cukai produk tembakau paling sedikit 65 persen dari harga penjualan (pasal 27), peraturan pelabelan (pasal 25) dan peraturan iklan dan promosi rokok secara langsung dan tidak langsung kini dilarang (pasal 34 ayat 1) yang diberlakukan bagi media cetak elektronik dan media lainnya (ayat 2).
  2. Perda No. 2/2005 tentang pengendalian udara, bahasa halus untuk larangan merokok di tempat-tempat umum, yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan kini Surabaya mulai memberlakukan peraturan serupa.
  3. Pemerintah terus menggenjot penerimaan dari cukai. Hal itu dilakukan lewat penambahan komponen pungutan cukai per rokok. Selain itu Pemerintah juga mengenakan tarif tambahan. Kebijakan-kebijakan tersebut dirasa memberatkan produsen rokok.

Selain pemerintah, terdapat pula peran institusi yang dapat mempengaruhi profitabilitas dalam industri. Seperti:

  1. Warga Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
  2. Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dianggap perangkat hukum untuk melindungi bahaya yang diakibatkan oleh tembakau. Konvensi ini sudah ditandatangani oleh 168 anggota WHO dan diratifikasi oleh 68 negara. Indonesia sendiri sebenarnya merupakan negara yang terlibat aktif dalam menyusun FCTC. Tapi ironisnya, Indonesia justru tidak bersedia menandatanganinya. YLKI mengisyaratkan, apabila dalam satu bulan mendatang pemerintah tidak meratifikasi konvensi FCTC maka akan diajukan gugatan class action.

3 thoughts on “Analisis Industri Rokok Nasional 2007-2008

  1. hai,aq skrg lg buat skripsi tentang prediksi kebangkrutan industri rokok di indonesia.bisa gak butuh artikel ato jurnal tentang z-score n rumus2nya.thanks ya…….balas ke emailq ya……

  2. Selamat malam, saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi saya, penelitian tentang industri rokok di Indonesia, saya melihat dari 4 perusahaan besar yang menguasai pangsa pasar industri rokok di Indonesia, diantaranya PT HM Sampoerna, PT Djarum, PT Gudang Garam dan PT Bentoel. Saya merasa kesulitan mencari data mentah tentang perusahaan tersebut.
    Data yang saya cari dari tahun 2000 s/d 2011, adapun data yg saya cari diantaranya total penjualan, total volume produksi, pangsa pasar, total asset perusahaan, laba kotor & laba bersih.
    Kiranya dari teman2 semua dapat membantu saya untuk mendapatkan data yang saya inginkan. Terima Kasih

  3. Selamat siang, saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi saya, penelitian tentang industri cerutu di Indonesia, saya melihat PD. Taru Martani jogja Saya merasa kesulitan mencari data mentah tentang perusahaan tersebut.
    Data yang saya cari dari tahun 2009 s/d 2010, adapun data yg saya cari diantaranya total penjualan, BOP,biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan baku, laba kotor.
    Kiranya dari teman2 semua dapat membantu saya untuk mendapatkan data yang saya inginkan. Terima Kasih
    kirim ke rzk_15@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s