good business, good ethics, good indonesia

PENDAHULUAN

Persaingan bisnis yang semakin ketat menyebabkan para pengusaha berusaha mengikuti laju praktek bisnis pesaing dan melakukan berbagai upaya untuk meraih market share, terkadang mereka menggunakan jalan singkat untuk meraup keuntungan dengan mengabaikan tanggung jawab sosial dan etika bisnis, seperti merusak lingkungan hidup, melakukan korupsi (suap atau penggelapan pajak), merampas hak-hak kemanusiaan (diskriminasi) dan praktek child labor atau perbudakan (Lasserre, 2003:398).

Dengan menipu dan melakukan praktek kurang etis, keuntungan memang bisa diraih untuk sementara waktu, tetapi sekaligus berfungsi sebagai bom waktu yang akan menghancurkan perusahaan pada jangka panjang (Bertens, 2000:387). Perilaku kurang etis juga akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat yang akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar atau larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan (Santosa, 2007:2). Berikut contoh tindakan perusahaan yang tidak beretika.

Less Cost, High Profit

Pada tahun 90an, Nike pernah diboikot di beberapa negara akibat mempekerjakan anak-anak Asia (terutama India, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia) yang berusia 10-14 tahun di lingkungan pabrik yang tidak sehat -penuh dengan bau lem yang menyengat, selama 70 jam seminggu dengan upah yang sangat rendah (Joseph, 1996). Produk yang dihasilkan anak-anak Asia tersebut, kemudian dijual dengan harga mahal di negara barat. Hal ini menunjukkan bahwa Nike hanya mementingkan laba semata.

Eksploitasi

Selain itu, tindakan yang tak beretika lainnya adalah eksploitasi berlebih, yang seringkali terjadi di Indonesia. Seperti melubernya lumpur dan gas panas di Kabupaten Sidoarjo akibat eksploitasi gas PT Lapindo Brantas sejak 29 Mei 2006 (Pin, 2006) yang merugikan penduduk sekitar -baik secara moril maupun materiil. Kemudian yang juga sangat memprihatinkan adalah pengusaha kayu yang melakukan penebangan hutan besar-besaran untuk menuai kayu gelondongan.

Tim dari Yale’s Center for Law and Environmental Policy dan Columbia’s Center for International Earth Science Information Network memperkenalkan Environmental Performance Index (EPI), sebuah metrik sederhana yang berisi nilai 100 (the greenest) sampai 0 (the least green) sebagai pengukur komprehensif mengenai bagaimana suatu negara memperhatikan dan menyelamatkan lingkungan. Kategori yang dinilai antara lain kehutanan, emisi karbon, kualitas air dan sebagainya. Indonesia berada pada peringkat yang buruk, yakni peringkat 102 (tertinggi adalah Switzerland dengan peringkat 1 dan terakhir adalah Nigeria dengan peringkat 147). Lalu pada kategori kehutanan, Indonesia menempati posisi paling akhir dengan skor 0.

shrinking-forest

Lovejoy (2008:83) memaparkan di tahun 1990 saja Sumatera telah kehilangan 35% hutan dan Kalimantan kehilangan 19%. Hutan yang makin gundul akan mengganggu ekosistem, berdampak buruk bagi manusia karena emisi karbon yang dihasilkan menjadi semakin besar (85%), serta mengancam populasi Badak Sumatra dan Orang Utan Kalimantan ke ambang kepunahan. Tentu saja hal ini sangat menakutkan, apalagi praktek illegal logging juga marak terjadi di hutan-hutan Indonesia. World Wide Fund (WWF), organisasi lingkungan hidup terbesar memberikan gambaran ironis mengenai hutan di pulau Kalimantan mulai tahun 1950 hingga tahun 2020. Di mana seperti yang terlihat pada gambar 1 (Shrinking Forests in Borneo, WWF, 2008). bila pohon terus ditebangi, maka pada tahun 2020, pulau Kalimantan akan kehilangan hutan.

ETIKA MENCIPTAKAN REPUTASI DAN LABA

Secara ekonomi, bisnis adalah baik, kalau menghasilkan laba. Sedangkan secara etika, bisnis adalah baik bila dilakukan sesuai dengan hati nurani, berdasar kaidah emas dan terdapat penilaian dari masyarakat umum atau audit sosial (transparansi, keterbukaan, tidak ada yang disembunyikan). Kaidah emas merupakan anjuran dari filsuf Immanuel Kant, “hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana anda sendiri ingin diperlakukan” (Bertens, 2000:27-32).

Etika bisnis dirasa penting, karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi, serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis, organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal, serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. (Santosa, 2007:2)

Beberapa akademisi dan praktisi bisnis melihat adanya hubungan sinergis antara etika dan laba. Menurut mereka, justru di era kompetisi yang ketat ini, berbisnis di jalan lurus, peduli pada lingkungan dan komunitas -dapat menciptakan reputasi baik perusahaan di mata konsumen atau pasar (domestik bahkan global) dan ini merupakan sebuah daya saing yang sulit ditiru (Pin, 2006). Dengan beretika, reputasi lokal bisa berkembang menjadi reputasi nasional dan reputasi nasional menjadi reputasi internasional dan hal ini juga bisa meningkatkan laba perusahaan.

Contohnya adalah produk buatan China yang pernah menggemparkan dunia dengan kasus lead paint pada boneka Barbie dan heboh kasus formalin pada makanan ringan buatan China yang beredar di Indonesia. Ironisnya, produk-produk buatan China yang bermasalah tersebut telah lama akrab dikonsumsi masyarakat. Tentunya timbul kekhawatiran konsumen seberapa banyak kadar racun yang telah mengendap dalam tubuh, bagaimana efeknya terhadap kesehatan mereka di kemudian hari, bagaimana jika mereka tiba-tiba jatuh sakit. Selanjutnya akan timbul kekecewaan terhadap produk China, karena produsen tidak peduli terhadap kesehatan konsumennya, produsen tidak bertanggung jawab dan produsen seenaknya dalam mencari untung. Akhirnya timbul ketakutan dan trauma terhadap produk China, orang menghindari produk buatan China karena imej yang terlanjur buruk. Bahkan sekelompok masyarakat akan melakukan boikot dan tuntutan hukum. Kondisi ini akan memukul balik industri China karena beberapa produsen yang tidak bertanggung jawab menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan, membuat keseluruhan industri China mendapat citra buruk di mata dunia (Lilyani, 2007:7). Di sini dapat dikatakan bahwa reputasi yang buruk, membuat masyarakat dunia telah kehilangan rasa percaya pada produk China.

INTEGRITAS SEBAGAI PONDASI DASAR

“Integrity is telling myself the truth. And honesty is telling the truth to other people” (Spencer Johnson)

Menurut Rudito dan Famiola (2007:66), dari sekian banyak faktor etika yang telah dipertanyakan kepada para pemimpin perusahaan -kejujuran adalah tiang utamanya. Jujur dapat diartikan dengan dapat dipercaya (integritas). Tocqueville (1831) dalam Rudito dan Famiola (2007:66) mengatakan bahwa integritas dan tingkah laku yang berkenaan dengan etika harus menjadi landasan dalam hidup personal dan profesional. Jon M Huntsman (2005) dalam Pin (2006) menambahkan bahwa kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain. the-interests-of-all-stakeholders

Banyak pandangan menyebutkan dengan membangun kepercayaan, diyakini bahwa suatu perusahaan sudah pasti berperilaku etis. Walaupun sebenarnya perilaku beretika tidak cukup hanya dengan meningkatnya kepercayaan. Namun kepercayaan bisa diangkat sebagai poin dasar yang banyak dijadikan sebagai indikator bahwa suatu perusahaan bisa dianggap beretika atau tidak. Steiner (2006) dalam Rudito dan Famiola (2007:67) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika, yaitu kepemimpinan, strategi dan performasi, budaya perusahaan, dan karakter individual.

Kepemimpinan

Peran manajerial dalam menjalankan suatu perusahaan adalah sangat sentral, sebab para manajerlah yang mengambil keputusan penting dalam menjalankan seluruh aktivitas perusahaan. Kepemimpinan yang beretika menggabungkan antara pengambilan keputusan dan perilaku yang beretika. Michelli (2007:178-183) mengatakan bahwa tindakan manajer mengandung dampak yang besar sekali terhadap individu dan masyarakat. Badaracco (2003:151) menambahkan bahwa untuk sukses, pemimpin harus menegoisasikan visi etika mereka dengan shareholder, customer, employees dan pihak-pihak terkait lainnya atau yang disebut sebagai stakeholder.

Dalam perspektif sebuah perusahaan, etika memiliki hubungan yang dekat dengan trust bagi dan terhadap stakeholder-nya, karena itu pemimpin perlu mempertimbangkan kepentingan para stakeholder. Seperti memperhatikan kesejahteraan karyawan, menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat, mempromosikan kesempatan yang sama bagi karyawan di setiap tingkatan, menghindari perilaku diskriminasi (gender, ras, agama), tidak mengeksploitasi anak-anak, tidak melakukan pelecehan fisik dan seksual. Perusahaan juga harus peduli terhadap lingkungan hidup, masyarakat di sekitar pabrik dan lain sebagainya.

Salah satu contoh mengenai kepemimpinan yang mempengaruhi bisnis menjadi terpercaya dan beretika adalah kepedulian sosial yang menjadi bagian yang integral dalam misi para pemimpin Starbucks. Eksekutif Starbucks memiliki komitmen yang monumental terhadap perlindungan perusahaan dan komunitas yang meliputi: memastikan kesejahteraan staf mereka sendiri, menjadi relawan/wati di lingkungan sekitar, memperhatikan kualitas hidup para pemasok produk, transparansi ekonomi melalui rantai suplai, pemberian dana bantuan yang besar untuk organisasi-organisasi komunitas nasional, pemberian dana untuk organisasi nirlaba setempat, menjaga keberlangsungan secara terencana untuk generasi di masa depan. Dan itu hanya sebagian dari pendekatan aktif Starbucks dalam bidang sosial.

Starbucks berkomitmen terhadap peran kepemimpinan berwawasan lingkungan di semua aspek bisnis. Starbucks memenuhi misi dengan komitmen memahami masalah lingkungan dan berbagi informasi dengan mitra, menciptakan solusi inovatif dan fleksibel untuk membawa perubahan, berusaha keras membeli, menjual dan menggunakan produk yang ramah lingkungan, menyadari bahwa tanggung jawab fiskal penting artinya bagi masa depan lingkungan, menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai sebuah nilai perusahaan, mengukur dan memonitor perkembangan setiap proyek, serta memotivasi semua mitra untuk bekerja sama dalam mendukung misi Starbucks. Manajemen Starbucks telah sukses membangkitkan kepercayaan para stakeholder dengan berusaha memelihara kesejahteraan pegawai, melayani pelanggan, mempersembahkan produk bermutu, memperkaya investor, dan memperbaiki komunitas dengan cara membantu lingkungan.

Melalui komitmen terhadap tanggung jawab sosial, pemimpin Starbucks telah membuka kesempatan bagi para mitra sehingga mereka bisa memberikan dampak yang lebih nyata ke dunia luas. Dengan membimbing anggota staf mereka untuk berpikir dan bertindak dalam cara-cara yang bermanfaat bagi masyarakat dan masalah-masalah sosial yang penting, para pemimpin Starbucks membantu pegawai untuk menyadari kekuatan mereka dalam menciptakan perubahan. Kesadaran semacam itu memotivasi semua pegawai Starbucks untuk menjadi apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, yaitu “Perubahan yang ingin kita lihat di dunia”. (Michelli, 2007:203)

Dari contoh di atas, Doug Lennick dan Fred Kiel (2005) dalam Pin (2006) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebih sukses dalam jangka panjang. Seperti halnya Starbucks yang sejak tahun 1992, nilai sahamnya terus meningkat secara luar biasa sebesar 5000 persen. Starbucks berhasil mempertahankan kualitasnya sambil terus berekspansi secara agresif. Sekarang ini, Starbucks membuka lima kedai baru setiap harinya, 365 hari per tahun. Perusahaan ini diakui secara konsisten oleh Fortune sebagai salah satu perusahaan Amerika yang paling dikagumi dan terbaik. Sementara Business Ethic memasukkan Starbucks dalam daftar perusahaan yang paling peduli terhadap masalah sosial setiap tahunnya. (Michelli, 2007:4)

Strategi dan Performasi

Sebuah fungsi penting dari manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya dari berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang buruk akan memiliki kesulitan besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut excellence harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan-kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.

Banyak perusahaan yang menggunakan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai strategi mereka dalam berbisnis. Tapi perlu diingat bahwa sebuah perusahaan dianggap memiliki tanggung jawab sosial bila dengan serius menjalankan kewajibannya terhadap semua stakeholder-nya. Jadi ini bukan mengenai apakah sebuah perusahaan mensponsori ajang-ajang lokal atau program-program lingkungan, atau memiliki sebuah yayasan yang menyediakan dana untuk amal. Ini menyangkut pengembangan sebuah reputasi integritas sehingga tumbuh rasa percaya antar pegawai, investor, pelanggan, pemasok, dan komunitas mereka (Steve Priest dalam Michelli, 2007:183).

Salah satu contoh faktor strategi dan performasi yang dapat mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika adalah kisah Anita Roddick pendiri The Body Shop, perusahaan yang terkenal akan kepeduliannya terhadap lingkungan. Awalnya, Anita yang tidak punya cukup modal, membuat produk kosmetik menggunakan bahan-bahan lazim yang mudah didapat, lalu dikemas dalam wadah plastik kecil daur ulang. Tak ada yang menonjol dalam produksinya. Yang istimewa adalah upaya yang dilakukan Anita mengubah kelemahan menjadi kekuatan pemasaran. Karena bahan-bahannya bukan sesuatu yang baru, produk kosmetik sederhana itu tidak memerlukan uji apa pun. Anita menutupi “keterbelakangan” produknya dengan kampanye anti-animal testing. Lalu, ketidakmampuannya membeli kemasan “wah”, dipulas dengan kampanye cinta lingkungan (yakni penggunaan botol bekas atau produk yang dibeli konsumen tidak diberi kantong plastik dengan alasan mengurangi penimbunan sampah). Tak mampu menyewa lokasi yang eksklusif, Anita mengambil lokasi di antara dua funeral parlor. Dinding toko dicat warna hijau untuk menyembunyikan noda karena rembesan air, tapi warna hijau ini diasosiasikan sebagai warna cinta lingkungan.

Pola pikir seperti ini mendorong Anita mengembangkan falsafah bisnis yang unik yaitu menciptakan keuntungan dengan memegang teguh prinsip. Ia bukan sekedar mau meraup keuntungan, melainkan ingin menciptakan perubahan sosial dan lingkungan. Pada era pertumbuhannya, Anita mendukung kampanye GreenPeace, jendela dan dinding toko The Body Shop dipenuhi poster Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan yang menentang pembuangan bahan berbahaya ke Laut Utara. Anita juga memanfaatkan truk dan tas The Body Shop untuk menyampaikan pesan lingkungan. The Body Shop juga mendukung kampanye penyelamatan paus, Amnesty International, penyelamatan hutan hujan, Friends of the Earth, dan sebagainya. Anita juga gencar mendukung promosi untuk membangun kesadaran terhadap AIDS, mendorong daur ulang, menghentikan praktek uji dengan binatang. Terkait dengan binatang, The Body Shop menghindari bahan-bahan hewani. Anita banyak pula mencurahkan perhatian untuk pemberdayaan komunitas di negara-negara Dunia Ketiga. Ia tidak mengeksploitasi para buruh di negara Dunia Ketiga tersebut dan memberikan gaji sebanding dengan buruh di Inggris. Anita membeli bahan baku produk dari para petani negara miskin dengan harga pantas dan Anita adalah pencetus dilakukannya audit sosial.

Sentuhan midas Anita yang juga menjadi strateginya dalam berbisnis membuat The Body Shop mengalami pertumbuhan rata-rata 50% per tahun selama satu dasawarsa pertama. Tak mengherankan, ketika sahamnya diluncurkan pertama kali pada April 1984 nilainya langsung meroket. Dan Januari 1986 sudah terdaftar penuh di Bursa Efek London dan diperdagangkan 8,6 kali lebih tinggi daripada harga perdana. Pada tahun 1991, The Body Shop melambungkan Anita ke jajaran perempuan terkaya di Britannia Raya. Sayangnya di kemudian hari, Anita terlalu berkonsentrasi meluncurkan proyek-proyek lingkungan daripada meremajakan produknya yang mulai menua. Ia mengabaikan strategic plan dan struktur manajemen yang jelas. Nilai saham The Body Shop anjlok, akhirnya Anita menyerah dan menjual The Body Shop kepada L’Oreal Paris pada Maret 2006. (Sarnianto, 2007)

Berdasarkan cerita di atas, kita dapat meresapi beberapa hal penting, yang pertama adalah bahwa bertanggung jawab sosial bisa dijadikan alat strategi dan daya saing yang tidak mudah ditiru. Namun bukan sekedar strategi belaka untuk meraup keuntungan, tetapi dengan konsisten menjalankan tanggung jawab sosial tersebut dengan integritas. Kedua, bertanggung jawab sosial memberikan keuntungan jangka panjang, yakni berupa reputasi. Sehingga meski saham The Body Shop sempat anjlok dan terjadi pergantian kepemilikan, namun tetap bisa bangkit kembali. Ketiga, good ethics adalah good business, tapi jangan pernah lupakan margin (Manley, 2008). Karena dari cerita di atas, tampak bahwa Anita lupa pada bisnis, akibat terlalu konsentrasi pada etika. Kini Anita telah meninggal dunia, namun warisan yang paling berharga darinya adalah falsafah bisnis yang penuh tanggung jawab social

Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu perusahaan. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercaya sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya perusahaan membantu terbentuknya nilai dan moral di tempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholder-nya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan salah satu cara untuk membangun budaya perusahaan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. (Rudito dan Famiola, 2007:71)

Budaya meletakkan kiprah moral dalam suatu organisasi, dan budaya hadir dari atas ke bawah (Al Gini dalam Vanasco, 2008). Praktek penerapan etika bisnis yang paling sering kita jumpai pada umunya diwujudkan dalam bentuk buku saku “code of conducts” atau kode etik di masing-masing perusahaan. Hal ini barulah merupakan tahap awal dari praktek etika bisnis yakni mengkodifikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis bersama-sama budaya perusahaan, ke dalam suatu bentuk pernyataan tertulis dari perusahaan untuk dilakukan dan tidak dilakukan oleh manajemen dan karyawan dalam melakukan kegiatan bisnis. (Santosa, 2007)

Salah satu contoh faktor budaya perusahaan yang dapat mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika adalah Conoco Philips (CP). CP -perusahaan multinasional petrochemical dari Amerika Serikat, menganggap bahwa reputasi adalah segalanya dan mereka mempraktekkan kejujuran dan bisnis yang beretika sebagai inti dari setiap pengambilan keputusan bisnis, pada setiap tingkatan dalam perusahaan. CP memiliki komitmen jangka panjang dalam memelihara standar etika tertinggi dengan mengadopsi sebuah budaya yang menghargai kejujuran, integritas dan pertanggung jawaban pada setiap hal yang dilakukan. Operasi yang dijalankan CP dituntun oleh seperangkat nilai inti etikal yang dinamakan “SPIRIT of Performance” yakni Safety, People, Integrity, Responsibility, Innovation and Teamwork. the-spirit-of-performance-conoco-philips

Kehebatan budayanya, membuat CP mampu beroperasi dengan cara yang handal dan menguntungkan, serta membuat CP mampu mengatasi berbagai tantangan dalam industri minyak dan gas alam internasional yang persaingannya semakin ketat. Kapitalisasi pasar CP pada akhir tahun 2007 adalah sebesar $139 milyar, yang menunjukkan peningkatan 17 persen dari tahun 2006. Peredaran saham perusahaan pada tanggal 31 Desember 2007 berjumlah 1.571 juta lembar, dengan harga penutupan akhir tahun sebesar $88,30. Total laba pemegang saham perusahaan untuk 2007 sebesar 25,4 persen, urutan kedua di antara perusahaan sejenis. Laba tahunan CP bagi pemegang saham selama jangka waktu tiga tahun sebesar 29,4 persen dan selama jangka waktu lima tahun sebesar 32,6 persen. (Mulva, 2008:5)

Karakter Individu

“When I do good, I feel good; when I do bad, I feel bad. That’s my religion” (Abraham Lincoln)

Perjalanan hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam menjalankan fungsi-fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku para individu ini tentu akan sangat mempengaruhi pada tindakan-tindakan mereka di tempat kerja atau dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Menurut Irwin (2001) dalam Rudito dan Famiola (2007:72) perilaku etika seseorang dalam suatu organisasi akan sangat dipengaruhi nilai-nilai, norma-norma, moral dan prinsip yang dianutnya dalam menjalankan kehidupannya, yang kemudian bisa dianggap sebagai kualitas individu tersebut.

Semua kualitas individu itu nantinya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang diperolah dari luar yang kemudian menjadi prinsip yang dijalani dalam kehidupannya dalam bentuk perilaku. Faktor-faktor tersebut adalah pengaruh budaya, pengaruh organisasi tempatnya bekerja dan pengaruh kondisi politik dan perekonomian global di mana dia hidup. Sesuai dengan peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Bila pemimpin tidak menghormati peraturan yang telah ditetapkan bersama, maka bawahannya akan meniru. Bila pemerintah (anggota dewan) terus melestarikan budaya korupsi, maka tak heran bila rakyatnya (dalam hal ini pengusaha) juga akan melakukan hal yang sama.

PERANAN PEMERINTAH

Dari pembahasan di atas, dapat kita lihat betapa etika bisnis itu penting adanya. Namun, ternyata di Indonesia jarang tampak keyakinan bahwa moralitas yang baik merupakan salah satu kunci untuk berhasil di bidang bisnis. Dalam diskusi tentang etika bisnis, berulang kali terdengar keluhan “kita pasti kalah dalam bisnis, kalau berpegang pada etika”. Maksudnya tentu kalah terhadap pengusaha-pengusaha lain yang tidak peduli dengan etika. Mengapa para pengusaha Indonesia demikian pesimis?

Menurut Bertens (2000:389), di Indonesia memang cukup lama etika bisnis mengalami kesulitan karena tidak didukung oleh suatu kerangka sosial-politik yang sehat. Salah satu buktinya, di Indonesia tidak kekurangan skandal-skandal bisnis dan tidak satu pun diselesaikan sampai tuntas, karena adanya bekingan dari pihak penguasa. Padahal dalam melestarikan etika bisnis dalam perusahaan, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk bertindak. Guterl dan Sheridan (2008:43-49) mengatakan bahwa dalam daftar EPI, Switzerland bisa meraih peringkat 1 (the greenest) dengan skor 95.5, karena Switzerland memiliki pemerintahan yang stabil dan peduli terhadap lingkungan hidup. Berbeda halnya dengan negara-negara Afrika yang berada di peringkat bawah, mereka memiliki pemerintahan yang korup dan rezim yang tidak stabil. Apa yang terjadi di Afrika, juga terjadi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tabel Corruption Perception Index (CPI) yang dipublikasikan oleh Transparency International -sebuah non-governmental organization berikut ini.

Melalui tabel CPI di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2007, Indonesia berada pada peringkat 143 dengan skor 2.3 (highly corruption), ini merupakan prestasi yang luar biasa memalukan. Memang dari tahun ke tahun, praktek korupsi di Indonesia terus merajalela dan korupsi akut banyak terjadi pada industri kontrak kerja publik, konstruksi, tenaga dan energi, pertambangan, telekomunikasi, penerbangan dan perbankan (Lasserre, 2003:398), mengakibatkan bangsa ini kian terpuruk. Kwik (2003:4) menambahkan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan karena bobroknya perilaku penguasa dan pengusaha kita. Tidak adanya etika bisnis yang baik merupakan akar terjadinya KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Kerusakan oleh KKN yang sudah menjelma menjadi kerusakan pikiran, perasaan, moral, mental dan akhlak membuahkan kebijakan-kebijakan yang sangat tidak masuk akal. KKN adalah sumber dari segala permasalahan yang tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja, tapi juga dalam segala bidang (Kwik, 2003:10). corruption-perception-index-lambsdorff

Karena itu, untuk menuju masa depan yang lebih baik, kita harus melakukan perubahan -merevolusi budaya, yaitu dengan memperbaiki moral bangsa terlebih dahulu, menumpas KKN dan membenahi pemerintahan. Kemudian masing-masing dari kita juga harus memperbaiki diri sendiri. Karena bila diri kita (dalam hal ini pengusaha) terus-menerus mengabaikan etika bisnis, kerugian yang dibawa tidak saja buat masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara (Dalimunthe, 2004:6). Dan jika nama Indonesia makin buruk di mata dunia internasional, maka tak heran bila investor asing lari dari negara ini. Seperti yang diungkapkan oleh Nugroho (2000) bahwa Wilshire Associates sebuah konsultan investasi di Amerika, pada 22 Februari 2002 memberi rekomendasi kepada kliennya, California Public Employees’ Retirement System’s (CalPERS -sebuah perusahaan dana pensiun raksasa) untuk menarik semua investasinya dari Indonesia, atas dasar penilaian: transparansi, stabilitas politik, dan perlakuan terhadap para pekerja yang dianggap tidak memadai.

PENUTUP

Perusahaan membutuhkan daya saing yang tidak mudah ditiru untuk mengatasi persaingan bisnis yang kian sengit. Salah satu cara adalah dengan menjalankan etika bisnis, seperti memperhatikan lingkungan, human rights, labor practices dan anti korupsi. Etika bisnis dianggap penting, karena dapat menghasilkan reputasi lokal yang bisa berkembang menjadi reputasi nasional, bahkan internasional. Dan bila reputasi perusahaan baik, maka akan berimbas pula pada peningkatan laba. Namun tak mudah melakukan ini semua, karena ada beberapa tantangan yang harus dihadapi perusahaan, seperti:

  • Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dengan integritas sebagai pondasinya, serta mampu memegang teguh komitmen dan selalu konsisten dalam menerapkan etika bisnis.
  • Membangun budaya di mana standar dan nilai adalah pusat dari strategi perusahaan, serta memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan yang mendukung performasi etika.
  • Menciptakan karakter individu yang selalu mencerminkan perilaku beretika.

Perusahaan harus mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut, karena perusahaan tidak saja membawa nama baiknya sendiri, tetapi juga nama baik negara. Begitupula sebaliknya, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk bertindak, memperbaiki moral bangsa, menumpas KKN serta menjaga kestabilan politik. Tetapi bila pemerintah tidak bisa diharapkan untuk bertindak, maka peran masyarakat, terutama melalui badan-badan pengawasan, LSM, media, dan konsumen yang kritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis di Indonesia, agar Indonesia dapat menuju masa depan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

  • Badaracco, Joseph L. 2003. The Disciple of Building Character. Harvard Business Review on Corporate Ethics. Harvard Business Publishing Corp., US.
  • Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  • Boatright, John R. 2000. Ethics and the Conduct of Business, Third Edition. Prentice-Hall, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.
  • ConocoPhilips. 2008. ConocoPhillips Values, Policies and Positions. ConocoPhilips (Online). http://www.conocophillips.com/social/values_policies/index.htm diakses 10 Juli 2008 Pk.00.15.
  • Dalimunthe, Ritha F. 2004. Etika Bisnis. Makalah Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
  • Guterl, Fred dan Barrett Sheridan. 2008. Green Countries: A Global Report Card on Nations Doing The Most and Least, To Clean Up The Environment. Newsweek 7-14 Juli 2008 Hal.43-49.
  • Joseph, Joel D. 1996. Our Purchases Keep Children in Chains. Boycott Nike (Online). http://www.saigon.com/~nike/childlabor.htm diakses 12 Juli 2008 Pk. 10.00.
  • Kwik, Kian Gie. 2003. Kebijakan Ekonomi Pemerintah RI: Tinjauan Etika Bisnis. Makalah Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhamaadiyah ke 26, Jakarta 3 Oktober 2003.
  • Lambsdorff, J. Graf. 2007. 2007 Transparency International Corruption Perceptions Index. Transparency International Hal. 4-7.
  • Lasserre, Philippe. 2003. Global Strategic Management. Palgrave Macmillan, New York.
  • Lilyani. 2007. Implementasi Strategi Price Leadership Pada Produk Makanan dan Mainan Buatan China: Sebuah Pandangan dari Sisi Etika Bisnis. Makalah Etika Bisnis, Universitas Widya Mandala Surabaya.
  • Lovejoy, Thomas. 2008. The Threat From Trees. Newsweek 7-14 Juli 2008 Hal.83.
  • Manley, Stuart. 2008. Good ethics are good business (but don’t forget your margins). IOBA Standard (Online). http://www.ioba.org/newsletter/archive/V10/ethics.php diakses 3 Juli 2008 Pk. 20.00.
  • Michelli, Joseph A. 2007. The Starbuck Experience: 5 Prinsip untuk Mengubah Hal Biasa menjadi Luar Biasa. Esensi Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Mulva, James J. 2008. Laporan Tahunan ConocoPhilips: Menghantarkan Energi, Membangun Nilai.
  • Nugroho, Ari. 2002. Corporate Social Responsibility. Hukum Online: http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=5334&cl=Kolom diakses 5 Juli 2008 Pk. 22.10.
  • Pin, It. 2006. Etika dan Bisnis. Kompas Cyber Media (Online). http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0606/30/opini/2734491.htm diakses 2 Juli 2008 Pk. 12.00.
  • Rudito, Bambang dan Melia Famiola. 2007. Etika Bisnis Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di Indonesia. Rekayasa Sains, Bandung.
  • Santosa, Setyanto P. 2007. Membangun dan Mengembangkan Etika Bisnis Dalam Perusahaan. Pacific Link (Online). http://kolom.pacific.net.id/ind diakses 9 Juli 2008 Pk. 22.00.
  • Sarnianto, Prih. 2007. Legacy Seorang Ex Hippie. SWA Sembada No.21/XXIII/27 September – 7 Oktober 2007 Hal. 90-97.
  • Vanasco, Jennifer. 2008. Robert Fogel Among Experts Who Say Good Ethics is Good Business. GSB News (Online). http://www.chicagogsb.edu/news/2005-06-16h_ethics.aspx diakses 3 Juli 2008 Pk. 11.30.
  • WWF. 2008. Threats to Borneo forests. World Wide Fund (Online). http://www.panda.org/ diakses 8 Juli 2008 Pak. 16.00.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s