Suicide isn’t a choice. It’s a sin!

Sehari setelah tewasnya bocah Livia, di tempat yang sama Munzaiyanah (30) terjun bebas dari lantai I ke lantai lower ground (LG) di ITC Mega Grosir. Munzaiyanah sengaja ingin bunuh diri dengan cara terjun bebas di lokasi yang sama di mana bocah Livia terjatuh hingga tewas (Bali Post, 5 Juni 2007).

Selanjutnya pada hari Jumat 29 Juni 2007, pengunjung Mal Pasar Atum dikejutkan oleh tragedi memilukan. Seorang pria 62 tahun nekad loncat dari parkiran lantai delapan (Jawa Pos, 30 Juni 2007).

Mengapa akhir-akhir ini, banyak orang yang nekad membunuh dirinya sendiri? Apakah tidak ada pilihan lain, selain mengakhiri hidup?

Berdasarkan informasi, kebanyakan orang bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi beban hidup. Lihat saja salah satu program Transtv yang bertitel Kejamnya Dunia. Di acara tersebut kita bisa melihat bahwa banyak sekali manusia yang merasa didera oleh beban kehidupan. Tapi kenapa harus bunuh diri?

Itu karena, mereka merasa bahwa dunia seolah memusuhi mereka. Ada yang bunuh diri karena kecewa tidak lulus ujian, seperti yang dilakukan oleh Endang Lestari, siswi SMP di Desa Tawangsari, Jawa Tengah (www.metrotvnews.com, 25 Juni 2007).

Hal yang lebih parah terjadi di Amerika Serikat, tepatnya di negara bagian Virginia. Seorang mahasiswa Virginia Tech asal Korea, menembaki rekan sesama mahasiswa, dosen, serta staf kampus secara membabi buta. Setelah puas menembaki 33 orang, dia pun menutup hidupnya dengan cara menembak kepalanya sendiri (www.fajar.co.id, 18 April 2007).

Dia melakukan aksi tersebut akibat merana hidup dalam kemiskinan. Selama ini, Ia merasa dipecundangi oleh orang-orang kaya yang hidupnya serba mewah. Sedangkan Ia dan keluarganya harus banting tulang demi sesuap nasi. Rasa iri hati berkembang dalam hatinya, hingga rasa itu benar-benar sudah tak sanggup lagi Ia bendung. Maka terjadilah peristiwa berdarah yang memilukan itu.

Apa yang harus kita perbuat? Mari kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Mulai dari masyarakat yang paling kecil, yaitu keluarga. Sudahkah kita menghargai anggota keluarga kita? Apakah kita pernah menyakiti hati mereka?

Sebaiknya kita jangan lupa memperhatikan hal-hal kecil. Karena dari hal kecil, bermuara hal yang lebih besar. Bila di rumah kita memiliki pembantu, kita jangan menyiksa mereka, baik secara fisik ataupun mental. Misalnya pembantu kita melakukan kesalahan, jangan lantas memarahi mereka, mengata-ngatai dengan perkataan yang kotor, kasar dan jangan main pukul. Sebaliknya, kita hanya perlu memberi mereka pengertian, memberitahu di mana letak kesalahan mereka.

Misalkan di lingkungan tempat kita tinggal, ada seseorang mantan pekerja seks komersil (PSK) yang divonis terkena virus HIV. Jangan lantas kita menjauhi mereka, mencemooh dan mengisolasi mereka dari kehidupan sosial. Kita tidak boleh menghakimi mereka, karena mereka juga punya hak untuk hidup bahagia dan memperbaiki kesalahan yang pernah mereka perbuat.

Kasus siswi SMP yang bunuh diri akibat tidak lulus ujian juga bisa menjadi pelajaran buat kita. Bahwa semisal anak, adik atau kakak kita tidak lulus ujian, jangan kita hina atau kita hakimi, karena mereka sendiri tentu tidak berharap tidak lulus. Kita harus dapat menghibur dan menyemangati mereka agar mereka lebih perhatian pada pendidikan dan masa depannya.

Selain itu, kasus bunuh diri yang terjadi di Mal Pasar Atum disebabkan karena Bapak tersebut menderita stroke. Kenapa karena menderita stroke, Ia sampai nekad bunuh diri? Kemungkinan karena Ia merasa bahwa Ia tak punya cukup uang untuk berobat, keluarga tidak ada yang menemaninya melewati masa-masa kritis. Semestinya Ia harus bersikap arif. Hadapi saja penyakit itu dengan lapang dada. Bagaimanapun juga manusia memang akan menjadi tua, sakit, lalu mati.

Selain itu, bila kita mengalami sesuatu masalah yang berat dan sepertinya kita mulai stres. Ada baiknya bila masalah tersebut jangan dipendam sendiri. Sebaiknya kita mulai mencari media untuk melepaskan segala stres dan penat. Misalnya, mencurahkan isi hati dengan orang tua, saudara atau sahabat. Mengikuti konseling, memperbanyak ibadah, melakukan sesuatu hal yang membuat hati senang, seperti melukis, olahraga, tamasya dan lain-lain.

Pada intinya, jangan cepat menyerah. Apa yang membuat kita sedih, wajib kita lupakan. Apa yang membuat kita stres, wajib kita lepaskan. Kita harus kuat dan selalu menghargai hidup.

One thought on “Suicide isn’t a choice. It’s a sin!

  1. satu minggu setelah kepulangan kami dari acara desain grafis di kota bogor yang dingin dan sedingin kekuatanmu yang dalam menghabisi sekitar 100 jiwa lebih dalam waktu menit langsung hilang tak bernyawa. Hanya gara2 sepasang sepatu spotec yang tak bisa ikut dalam acara tersebut. Bersama dan dengan itu maka bagaimana dengan tugas yang bapak Komarudin berikan sekira2 10 tahun yang lalu, apakah mampu sebuah bullet ukuran …. harus menempuh jarak puluhan kilometer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s