NILAI SEBUAH SENI

Masih segar dalam ingatan, maraknya pemberitaan di Infotainment perihal Anjasmara- seorang aktor terkenal di Indonesia yang berani berpose tanpa sehelai benang pun dalam foto-foto yang bertema “Adam dan Hawa di taman eden”. Khalayak umum berpendapat bahwa foto-foto tersebut merupakan pornografi dan pornoaksi yang harus diberantas karena tak bermartabat. Namun para pekerja seni berpendapat bahwa foto-foto itu merupakan karya seni yang memiliki nilai dan keindahan. Memang setiap individu mempunyai pandangan sendiri, segala bentuk yang dilihatnya, akan diterima dan diolah menurut sudut pandangnya sendiri. Sebagaimana yang tersirat dari Teori Kant, di mana dikatakan di sana bahwa pengetahuan telah mempunyai struktur sendiri, di mana untuk mengetahui sesuatu, manusia mempunyai pandangan sendiri. Sehingga apa yang dilihatnya, dikenal, diterima akan diolah menurut sudut pandangan tersendiri.

Ada tanggapan bahwa keindahan sebagai obyek tangkapan akali, di mana akal tercermin dalam keindahan dan keindahan adalah bentuk. Ada obyek-obyek yang dipandang indah dan ada pula karya-karya seni. dalam kenyataannya, manusia melihat lalu membuat tanggapan-tanggapan estetis. Namun tanggapan setiap manusia tidak selalu sama, karena manusia memang memiliki sudut pandang yang berbeda dari setiap individu. Oleh karenanya, permasalahan pornografi ini kemudian menimbulkan pro dan kontra yang timbul dari setiap pemahaman manusia.

Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Di mana kala kita harus memahami sebuah obyek apakah bernilai atai tidak, bila pemahaman kita itu bijaksana, maka selanjutnya kita pun dapat bertindak bijaksana. Seperti pada masalah foto Anjasmara tersebut, di mana bila seseorang tidak memahami makna atau nilai dari gambar foto tersebut secara bijaksana, maka bisa saja orang itu melakukan tindakan yang tidak layak, seperti muncul nafsu atau gairah. Namun bila kita memahaminya secara bijaksana, layak dan berakal sehat, maka nilai yang kita serap adalah keindahan estetika semata.

Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung, mencoba untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita tinggal, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Ketika seseorang dengan pikirannya berusaha keras untuk menemukan alasan serta penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri kita sendiri atau perenungan itu juga bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih di dalam suatu percakapan (berdialog) ketika mereka melakukan analisa, kritik atau menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik.

Untuk itu sebelum pro dan kontra mengenai foto-foto Anjasmara itu semakin besar hingga dapat menimbulkan polemik yang menjurus kepada sikap anarkis, maka ada baiknya dilaksanakan dialog agar dapat menciptakan gagasan-gagasan yang tepat dan sesuai dengan norma dan nilai yang tumbuh berkembang di dalam masyarakat agar masyarakat kita tidak sampai mengalami degradasi moralitas dan akhlak yang bisa menimbulkan kebangkrutan sosial.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, pornografi dalam pengertian sekarang adalah penyajian tulisan, patung, gambar, foto, gambar hidup (film) atau rekaman suara yang dapat menimbulkan nafsu birahi dan menyinggung rasa sosial masyarakat. Dan semenjak Indonesia memasuki era reformasi, pornografi tumbuh berkembang. Begitu kran kebebasan pers dibuka, media-media porno mulai berkembang dan ironisnya memperoleh sambutan yang hangat dari masyarakat. Kalau sebelum era reformasi, masyarakat masih malu-malu dengan sesuatu yang berbau pornografi, maka dalam era reformasi ini masyarakat tampaknya sudah tidak tahu malu lagi dan tampaknya telah terkontaminasi oleh cara hidup materialisme dan hedonisme, yang memaknai hidup ini dengan tolok ukur materi dan sekadar mencari kesenangan belaka. Dengan mengabaikan moralitas, akhlak sebagai insan beragama dan etika sosial masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat kita mendefinisikan nilai berdasarkan atas rasa nikmat dan kepentingan duniawi semata (Sesat – Pikiran Naturalistis).

Fenomena pornografi tidak dapat diabaikan begitu saja, karena hal tersebut bersangkutan dengan hakekat manusia dan kesusilaan. Masalah ini dapat kita telaah melalui disiplin Deontologi yakni disiplin kefilsafatan mengenai hal-hal yang normatif, meliputi etika perorangan maupun etika sosial dan juga secara Aksiologi (pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai). Kita dapat mengkaji apakah foto-foto itu sesuai dengan Etika (kebaikan) dan Estetika (keindahan).

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa nilai sepenuhnya berhakekat subyektif. Di mana setiap permasalahan manusia memberi reaksi yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang mereka dan nilai-nilai merupakan kenyataan-kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi-esensi logis dan dapat diketahui melalui akal (obyektivitisme logis) dan juga merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan (obyektivitisme metafisik).

Sejumlah makna nilai bahwa suatu benda dapat dikatakan mengandung nilai (berguna), merupakan nilai (baik atau benar atau indah?), mempunyai nilai (merupakan obyek keinginan), mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap menyetujui atau mempunyai sifat nilai tertentu dan manusia dapat memberi nilai (menanggapi sesuatu sebagai hal yang menginginkan atau menggambarkan nilai tertentu)

Suatu benda dapat dikatakan mempunyai nilai bila benda tersebut mengandung nilai atau menggambarkan suatu nilai. Seperti suatu foto mempunyai nilai keindahan dan bernilai bagi mereka mereka yang menghargai seni. Jika nilai merupakan kualitas dan jika nilai tidak dapat dipahami dengan cara-cara yang lazim untuk menangkap kualitas-kualitas, maka pastilah ada indera nilai. Jika nilai merupakan esensi yang dapat ditangkap secara langsung, maka sudah pasti hubungan antara nilai dengan eksistensi merupakan bahan yang sesuai benar bagi proses pemberian tanggapan.

Kenyataan bahwa nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami. Nilai bersifat subyektif, maka sesungguhnya dalam hal ini tidak terdapat ketidaksepakatan dalam arti kata yang sebenarnya, karena masing-masing pribadi dalam menilai suatu benda menampak pada dirinya masing-masing. Tetapi patut diingat, di sini kita tengah menguji sudut pandang seseorang yang mengatakan bahwa nilai merupakan kualitas empiris.

Sebenarnya ada foto telanjang yang benar-benar menggandung kualitas seni, namun tak jarang ada fotografer yang sengaja membuat foto cabul, tapi berlindung di balik argumen bahwa foto yang diciptakannya adalah sebuah karya seni. Memang sangat disayangkan sikap masyarakat yang ambigu seperti itu. Oleh karenanya, sangat dibutuhkan tolak ukur kajian yang tepat terhadap nilai.

Seni merupakan hasil kegiatan yang intuisi dan ekspresi yang merupakan rasa nikmat yang diobyektivasikan kepada para pencinta seni. Suatu foto memang merupakan suatu intuisi, tetapi bukan kegiatan intuisinya sendiri. Seni merupakan pengalaman yang teratur serta lengkap yang di dalamnya makhluk hidup secara personal mengalami keberhasilan.

Untuk itu, kita harus selalu berdialog dengan cara menanggalkan atau menerjemahkan pertimbangan nilai agar dapat secara obyektif. Karena sesungguhnya kekuatan ilmu mengacu pada praksis dalam hidup bermasayarakat dan sesungguhnya ilmu itu sendiri merupakan tindakan manusia yang sudah dikurangi kadar nilainya.

One thought on “NILAI SEBUAH SENI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s