HIKAYAT TOXIC BOB

Setelah membaca dan mencoba memahami kasus tentang “Hikayat Toxic Bob : Si Tangan Emas Beracun” (SWA NO.01/XXI/6-18 Januari 2005), saya mencoba mencari keterkaitan antara kasus ini dengan political payment of global environment, stakeholder management and multinational corporation.

Robert Friedland atau “Toxic Bob” adalah legenda yang belalai bisnisnya menjangkau hampir semua negeri yang ada di dunia. Dari benua Afrika, Australia, Amerika hingga Asia. Dalam bertempur di jagat bisnis, Friedland lebih mengandalkan keuletan negosiasi. Multinational corporation yang Ia miliki adalah termasuk dalam tipe diversified multinational corporation di mana Ia mendirikan produksi berlokasi di berbagai Negara yang berbeda dengan produk yang berlainan jenis sesuai dengan sumber daya yang Ia dapatkan pada negara yang bersangkutan. Multinational corporation miliknya adalah berskala besar dan memiliki anggaran yang melebihi dari beberapa Negara. Ia pun memiliki pengaruh yang kuat dalam internasional, di mana walaupun Ia seringkali terjerat kasus dan skandal, namun para pebisnis dan investor masih berani mempercayainya.

Friedland menyalahgunakan Multinational Enterprise (MNE) di mana Ia terlibat dalam hal politik di beberapa Negara, Ia bisa seenaknya menutup pabrik, menjual pabriknya di mana terdapat transfer tuntutan, tambang-tambang yang Ia dirikan tak sedikitnya yang merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Dimulai dari kemenangan besar pertamanya adalah ketika Diamond Field Resources (DFR) perusahaan yang dia bentuk untuk mengeksplorasi intan di Arkansas dan Namibia menemukan deposit nikel di Voisey’s Bay. Labrador, kawasan pantai timur Kanada. Reputasi Friedland berkibar kala ia mengantongi C$ 500juta plus saham Inco yang membuatnya jadi pemegang saham terbesar perusahaan nikel terakbar itu. Akan tetapi reputasi itu pudar begitu diketahui bahwa saham DFR yang dikuasai Friedlang sebetulnya berasal dari Jim Bob Hodge yang memiliki skandal kasus pencucian uang yang melibatkan seorang diplomat Cile, lalu Ia juga dituntut oleh beberapa orang yang mendakwa Jean Boulle, mitranya di Labrador menggunakan informasi konfidensial milik Exdiam yang menemukan lokasi Voisey’s Bay dan waktu itu sedang menghimpun dana untuk eksplorasi, lalu tuntutan yang jauh lebih besar datang dari masyarakat asli yang berdiam di daerah itu, menurut mereka lokasi DFR sangat mengganggu lingkungan tempat masyarakat asli bergantung hidup. Masalah lainnya adalah industri kehutanan yang merusak dan pesawat militer yang mengganggu dengan terbang rendah. Pelepasan konsesi Voisey’s Bay ke Inco adalah cara cerdik Friedland melepaskan diri dari jeratan masalah. Inco sendiri kemudian menyesal karena telah membayar begitu tinggi.

Setelah itu Friedland memulai penambangan di summitville dengan pinjaman Bank of America dan bantuan teknologi dari Bechtel engineering of California,. Perusahaanya, Galatic menggali punggung gunung dan menumpuk pecahan cadas sampai dengan 120 kaki lau menutupinya dengan plastik. Kenekatan ini menumbuhkan hasil sehingga beberapa tahun operasionalnya perusahaan ini memperoleh puluhan ribu ounce emas dan jutaaan pon. Pada September 1990, Enviromental Protection Agency ( EPA ) menggetahui adanya kerusakan lingkungan yang terjadi dan keadaanya begitu parah. Kebocoran sianida dan logam berat yang tercampur di dalamnya membuat kehidupan air sepanjang 17 mil di Alamosa river, sumber irigasi kawasan Rio Grande rusak total. Sampai 1998, hidran dan segala macam mesin logam yang seharusnya tahan selama beberapa dasawarsa, berkarat hanya dalam bilangan tahun. Pada Desember 1992, EPA menyita obligasi Galatic untuk membersihkan kawasan tersebut, tapi Frieland lolos karena sebelum EPA bergerak, Friedland telah melepas kursi kepemilikan di Galatic dan kursi sebagai anggota manajemen. Seluruh asetnya pun telah diboyong, keluar dari jangkauan yuridiksi AS.

Pada awal 1990 ketika masalah summitville mulai menyeruak, Friedland menemukan Golden Star Resources (GSR) yang mempunyai proyek di Omai , kawasan dengan deposit emas terbesar di dekat Essequibo river, sumber utama air segar Guyana. Setelah pengerukan selama lima tahun, pada Agustus 1995, tanggul bendungan penampungan limbah jebol. Lebih dari 3,2 miliar liter lumpur sianida tumpah ke Omai river dan dalam jangka waktu hanya lima hari mencapai Essequibo river. Sepanjang sungai yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat itu, ribuan bangkai babi dan jutaan ikan mengambang. Lagi-lagi, Friedland lolos. Pengadilan terehadap Cambior di Quebeck pada tahun 1997 membuktikan bahwa dalam bilangan minggu sebelum tanggul jebol, pebisnis yang selicin belut itu telah melepas seluruh kepemilikannya di GSR.

Friedland memberikan pengaruh ekonomi yang sangat besar dalam distrik representative politikus-politikus, di mana Friedland menyediakan sumber-sumber keuangan untuk hubungan masyarakat dan proses melobi politik para diktator. Keahlian dan kelicikan dalam melobi bukan hanya dialami oleh perusahaan – perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan ini saja, melainkan juga terjadi di politikus – politikus vital elite negara yang Friedland bidik kekayaan alamnya. Misalnya Deputi perdana menteri MyanmarVice Admiral Maung Maung Khin dan PM rusia Vladimir Putin. Friedland juga berhasil masuk ke negara yang memiliki peraturan lingkungan yang ketat seperti Australia dengan mengangkat Gordon toll (mantan eksekutif Rio Tinto) sebagai pelobi dan membawa bendera Austarian Bulk Minerals ( ABM ).

Friedland juga tertarik dengan emas Indonesia karena angin segar dari Busang yang ditiupkan Bre-X (yang nantinya jadi skandal penipuan terbesar). First Dynasty (FD) shell company yang dihidupkan Friedland sejak tahun 1994 juga digunakan untuk mengakuisisi Setdco yang menguasai konsesi di Papua Nugini, berbatasan dengan tambang emas dan tambang terbesar di dunia milik Freeport McMoran di Papua. Untuk mengamankan kepentingan FD di Indonesia terutama kawasan Mimika yang potensial, Friedland menggandeng Bambang Trihatmojo dan menaruh Johanes Kotjo, mitra sang putra presiden Soeharto (waktu itu), sebagai chairman FD. Lalu untuk memperoleh akses ke tambang emas Gunung Pongkor, dia juga menggandeng PT Aneka Tambang (Antam) yang telah diswastanisasi pada 1996. Pada tahun 1997 masyarakat pulau Haruku mendemo Antam yang dinilai telah mencemari sungai Way Ifa. Setelah kejatuhan Soeharto pada 1998, kiprah Friedland di Indonesia tidak terdengar lagi. Ia beralih ke Oyu Tolgoi Mongolia dan menyerbu BHP Biliton dengan cara merebut hati Ulaanbaatar, Ia membeli utang Mongolia ke Rusia yang oleh Vladimir Putin didiskon 98%. Lalu pemerintahan Ulaanbaatar menganugerahi Friedland gelar Investor Envoy of the Year pada tahun 2003.

Idealnya ketika multinational corporation milik Freinland memasuki negara baru, seharusnya Ia memperhatikan beberapa etika, namun sebaliknya justru Ia selalu melanggar etika tersebut dan membuatnya kehilangan moralitas. Ia melanggar stakeholder politics di mana Ia ikut membentuk atau bergabung dalam kelompok politik di negara yang Ia memasuki termasuk dengan para diktakor, sehingga membuat Ia tampak tak membina hubungan baik dengan masyarakat negara tersebut, apalagi Ia sering merusak lingkungan alam sekitar masyarakat asli. Ia juga seringkali tidak membina hubungan baik dengan pemerintah, contohnya saja dengan pemerintahan yuridikasi Amerika Serikat. Friedland juga melanggar etika stakeholder technological tak selalu benar-benar mengurus lisensi dan penggunaan metode serta bahan baku dengan baik, hal ini terlihat daripada Ia selalu merusak lingkungan hidup karena tak menjalani prosedur dengan baik. Stakeholder social and labor adalah hal yang sangat peka dan yang telah Ia lakukan di Myanmar adalah memperkerjakan tenaga kerja paksa untuk membangun infrastruktur. Stakeholder ecological ia langgar dengan tidak memperhatikan etika terhadap sumber daya yang digunakan, ia selalu mendulang tuntutan atas limbah dan polusi namun Ia selalu dapat berkelit dan melempar tuntutan itu pada rekannya atau perusahaan lain.

Dari keempat tipe International Decision Making Style, Friedland merupakan golongan tipe Empire Country Style, di mana ia menerapkan model kekaisaran, otoriter, di manapun multinational corporationnya berada yang ia terapkan hanya peraturan dari pihak perusahaan sendiri, walaupun itu di negara orang lain, namun Ia selalu berbuat seenaknya. Tak hanya itu, Friedland juga bicara mengenai “Terorisme Islam” dan respon AS yang payah. Sehingga bagian dunia yang Muslim sekarang tertutup bagi eksplorasi Barat karena masalah keamanan. Agaknya Indonesia masuk ke dalam kategori ini dalam kerangka berpikir Friedland, maklum Ia tak punya lagi backing seorang diktaktor.

Seharusnya kini kita bersyukur karena tangan Friedland tak lagi mengotori sumber daya yang kaya dimiliki oleh Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat menjaga kekayaan Ibu Pertiwi sebaik-baiknya sebagai warisan berharga bagi anak-cucu kita kelak. Pemerintah dapat menerapkan peraturan yang ketat terhadap para investor asing yang hendak menanam modal pada tambang-tambang di Indonesia, serta bekerja sama dengan lembaga ekonomi Internasional dalam mengatur kebijakan seperti dana moneter internasional, bank dunia, WTO, serta kesepakatan dan perjanjian multilateral dan bilateral baik yang masih berbentuk nota kesepahaman yang belum mengikat maupun yang sifatnya sudah mengikat. Berbagai kesepakatan antara Indonesia dan berbagai lembaga internasional itu sudah barang tentu akan terus berpengaruh pada perjalanan potret ekonomi Indonesia di masa depan seperti pasar bebas ASEAN (AFTA). Lalu berlakukan pula ketentuan mengenai kesehatan, keamanan, keselamatan dan lingkungan hidup.

Pemerintah juga harus merubah paradigma pembinaan oleh jajaran birokrasi terhadap dunia usaha industri dari budaya penguasa ke arah budaya pelayanan publik yang bersifat memfasilitasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s