an eye for eye

Berita dunia di CNN hari ini agak mengusik hatiku. Tentang seorang gadis Iran berusia 31 tahun bernama Ameneh Bahrami yang mengalami kejadian tragis. buta11

Berawal pada tahun 2002, saat Ia berusia 24 tahun. Ia masuk perguruan tinggi sebagai mahasiswa elektronika dan berada di kelas yang sama dengan seorang mahasiswa berusia 19 tahun bernama Majid Movahendi.

Sejak awal bertemu, Movahendi selalu berlaku kasar pada Bahrami. Karena tak tahan, akhirnya Bahrami menjaga jarak dengan Movahendi. Tapi Movahendi selalu berusaha mendekati Bahrami dan mengasarinya. Suatu ketika, Bahrami meneriaki Movahendi agar berhenti mengganggunya. Namun Movahendi hanya memandangnya dalam kesunyian.

Dua tahun berlalu, Movahendi tetap mengganggu dan mengancam. Bahkan beberapa kali Movahendi meminta Bahrami untuk menikah dengannya, sambil berkata “kamu harus menerima lamaranku atau aku akan membunuhmu!”. Tentu saja Bahrami menolak mentah-mentah lamaran Movahendi! (Aku juga kalo dilamar sama psikopat kayak begini mah pasti nolak deh).

November 2004 pukul 4.30 sore, Bahrami meninggalkan tempat kerjanya, sebuah perusahaan alat mesin kesehatan, menuju ke terminal bis. Ia merasa ada seseorang mengikutinya dari belakang. Ia menoleh ke belakang dan kaget melihat Movahendi. Tiba-tiba Movahendi melempar sesuatu ke arahnya. Sesuatu itu adalah cairan asam yang serta merta membutakan mata, melelehkan kulit wajah hingga mulut, jari dan lengan Bahrami. buta2

Dua minggu setelah serangan itu, Movahendi menyerahkan dirinya ke kantor polisi dan mengakui kesalahannya di meja hijau. Movahendi mengaku nekad melakukan tindakan biadab itu karena Ia sungguh-sungguh mencintai Bahrami.

Korban kejahatan di Iran biasanya menerima “blood money”, uang permintaan maaf dari pelaku kejahatan. Bahrami seharusnya menerima sejumlah uang tunai yang sangat banyak, tapi Ia malah menolaknya dan berkata “Aku sudah bilang pada pengadilan bahwa Aku mau HUTANG MATA DIBAYAR MATA! Orang-orang seperti Movahendi sudah sepantasnya merasakan penderitaan yang sama denganku! Bukan aku ingin balas dendam, tapi aku melakukan ini, agar kejadian seperti ini tak terulang lagi pada orang lain”.

Permintaan Bahrami ini mendapatkan kecaman dari beberapa aktivis hak asasi manusia, namun beberapa blogger malah mendukung keputusan Bahrami. Begitupula dengan pengadilan Iran. Akhir tahun 2008, pengadilan menyetujui keinginan Bahrami. Pengadilan memutuskan untuk meneteskan zat kimia asam di tiap mata Movahendi. Movahendi meminta banding, tapi Februari 2009 ini bandingnya ditolak pengadilan.

Bahrami yang buta dan berwajah mengerikan, sudah berulang kali masuk ke kamar operasi, tapi wajahnya tak kunjung sempurna dan duitnya kian menipis sehingga kini Ia kesulitan membayar biaya medical care. Namun Bahrami tak kehabisan akal, Ia memanfaatkan internet untuk menggalang dana.

Bahrami memang kehilangan mata indahnya yang besar dan kecoklatan, tapi Ia tidak pernah berhenti tersenyum, apalagi bila Ia sedang berimajinasi mengenakan gaun pengantin.

Nah, teman-teman. Setelah Anda menyimak kisah Bahrami di atas, apa yang Anda rasakan? Apakah Anda pro atau kontra terhadap keinginan Bahrami ”HUTANG MATA DIBAYAR MATA?”.

Hillary Clinton Inspirasi Wanita

Indonesia baru saja kedatangan tamu special dari Amerika Serikat “Mrs.Hillary Clinton”. Dulunya wanita ini adalah first lady USA. Siapa yang ga kenal suaminya coba? Bill Clinton –dua kali menjabat sebagai presiden Amerika Serikat dan pernah kesandung skandal seks dengan Monica Lewinsky hingga jadi bulan2an media di seantero dunia. Waktu skandal terungkap, Hillary menanggapinya dengan tenang dan tetap bersahaja, meskipun Ia mengaku bahwa Ia cukup shock. Melihat ketegaran beliau, publik pun jadi bersimpati padanya. hillary

Hillary yang bernama asli Hillary Diane Rodham, lahir di Chicago Illinois pada tanggal 26 Oktober 1947. Menikah secara Metodist dengan Bill pada tanggal 11 Oktober 1975, kemudian dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Chelsea Clinton. Dahulu Hillary menempuh pendidikan di Wellesley College dan Yale Law School. Awalnya Ia sempat menempuh profesi sebagai seorang pengacara handal, hingga akhirnya terjun ke politik dan jadi senator junior. Hillary sejak muda tidak setuju pada segala bentuk rasisme yang terjadi di Amerika. Ia seringkali terlibat dalam demonstrasi yang menuntut adanya kesetaraan ras dan gender di Amerika. Bahkan Hillary muda sempat bertemu dengan Martin Luther King Jr (tokoh gerakan non kekerasan yang memperjuangkan hak-hak sipil dan menolak diskriminasi rasial).

Awalnya Hillary adalah seorang Republican, namun kemudian Ia hengkang ke Demokrat, karna Ia menilai adanya unsur rasis dalam kubu Republik. Kemudian mulailah ia berkelana di tubuh Demokrat. Tahun 1992 Ia membantu sang suami bergerak maju menjadi Presiden AS. Kemudian pada tahun 2008 Ia sendiri yang maju mencalonkan diri menjadi Capres dari kubu Demokrat, melawan rivalnya Barack Obama. Persaingan sangat sengit saat itu. Ada yang mensupport Hillary, namun tak sedikit juga yang mengejek dirinya. Aku waktu itu juga sering ngikuti pemberitaan di CNN. Aku pernah lihat para lelaki berkampanye membawa papan-papan bertuliskan “Hillary, setrika saja bajuku! Kau kan perempuan!”… hmmm benar-benar melecehkan kaum wanita ya? clinton-obama-tradeing-jabs

Hillary yang selalu tersenyum pun jadi bulan-bulanan orang yang kontra pada dirinya. Sehingga seringkali senyumnya jadi bahan ejekan, tapi Hillary bergeming, Ia terus maju meskipun pada akhirnya Ia dikalahkan juga oleh Obama. Tapi Hillary tidak seperti wanita kalah pada umumnya (yang nangis,iri hati,dengki,nuduh Obama pake ijazah palsu,nuduh KPU salah hitung kertas suara,dll hehe). Hillary menerima kekalahannya dengan lapang dada. Bahkan meski kalah, Hillary maju mendukung Obama melawan Capres John Mc Cain dari Republik.

Akhirnya dukungan Hillary pada Obama tidaklah sia-sia, karena kini Obama telah berhasil menjadi Presiden AS yang ke 44. Obama pun menunjuk Hillary sebagai Menteri Luar Negeri AS dalam kabinetnya. Tentu penunjukkan ini bukanlah tanpa sebab, tak ada yang meragukan kemampuan diplomasi Hillary.

Hillary menjadi Menlu AS pertama yang menabrak tradisi. Pada umumnya Menlu AS melakukan kunjungan perdana mereka ke negara Eropa dan Timur Tengah (karena ada oil interest), namun Hillary malah memilih untuk berkunjung ke negara Asia dan Indonesia menerima kehormatan sebagai negara Asia kedua yang Hillary kunjungi (setelah Jepang). Hillary menyatakan bahwa AS akan berhenti mendikte negara lain dan AS akan melakukan pendekatan “people to people” dan “people smart”.

Kedatangan Hillary ke Indonesia disambut baik oleh pemerintah RI dan beberapa warga (seperti diriku hehehe), namun tak sedikit juga yang berdemo menolak kedatangan beliau. Selama dua hari di Indonesia, jadwal Hillary benar-benar padat. Sejak Ia tiba, Ia langsung diagendakan bertemu dengan Menlu RI –Hassan Wirajuda, lalu melakukan konferensi Pers. Malamnya dinner bareng Kedubes AS untuk Indonesia, beberapa anggota dewan (terutama dari komisi I), beberapa LSM, dll di Gedung Kearsipan RI. Nah, saat dinner, Hillary sempat berpidato dan ditayangkan secara LIVE di MetroTV. Aku ngikuti pidato beliau dan terharu. Hillary bilang “dalam demokrasi ada yg kalah, ada yg menang. Kalau kalah, jangan marah ya! Saya senang melihat banyak wanita Indonesia yang bisa memiliki kedudukan yang sama dengan para pria!”

Hillary benar-benar wanita yang menginspirasi, 10 jempol deh untuk beliau! Selain urusan kenegaraan dan diplomatik, Hillary juga menyempatkan diri berkunjung ke kakus umum dan jadi bintang tamu trio Dahsyat -Luna Maya, Raffi Ahmad dan Olga Saputra di RCTI hehehe.

PASTI better than TIDAK PASTI

in-the-middle-of-nowhereHari Minggu kemarin aku ikut acara jalan santai dan bazar di bekas sekolahku dari jam 06.20 pagi sampai jam 16.30. Sebenarnya jam 11 siang aku uda bisa pulang, tapi aku memilih tetap bertahan di situ, gara-gara aku pengen nunggu pengundian doorprize (setrika, blender, dispenser, tv, kulkas dan MOTOR). Waktu itu aku naksir banget sama hadiah motor. Rencanaku, kalo semisal dapat motor, motornya bakal kujual dan uangnya buat modal kerja hehe

Tunggu punya tunggu, ehhh ternyata aku ga dapat motor, bahkan aku ga dapet satu pun doorpize yg tersedia!!! Padahal aku uda sengaja beli lima lembar tiket doorprize seharga 50 ribu. Aku beli lima, karena tiket yang dijual ada 2000 lembar. Jadi 5/2000 aku punya kemungkinan menang hadiah 1/400. Tapi maybe dewi fortuna belum berpihak kepadaku ya. Padahal ada penjaga sekolah yang namanya Pak Budi beli empat tiket dan empat-empatnya bisa dapat hadiah!!! Sedih ga sih???


T A P I…

Di balik kejadian menyedihkan ini, ada pelajaran yg bisa aku petik..

Aku jadi sadar bahwa hidup harus penuh HARAPAN dan perjuangan!

Saat itu aku berharap banget bisa dapetin doorprize. Aku sampe berdoa ga putus-putus pada Tuhan. Saat itu aku juga memaksa diri supaya tetap bertahan di tempat itu sampai acara pengundian doorprize selesai. Meski benere badanku uda cape banget, gerah kepanasan, mood uda ga karuan, aku tetep menunggu.

Aku menunggu, karena doorprize-nya itu ada di depan mata, dipajang dengan begitu mentereng.

Alhasil, meskipun aku ga menang, aku cukup puas, karena aku menunggu sesuatu yg PASTI, yang NYATA ada, daripada aku harus menunggu sesuatu yg TIDAK PASTI, TIDAK NYATA.


belajar leadership dari Sang BUDDHA

lead

Aku bukan pemeluk agama Budha, tapi aku senang membaca buku-buku ajaran Budha. Berikut ini kujabarkan gaya kepemimpinan Budha yang kupetik dari beberapa artikel yang beredar di internet. Selamat membaca…

Sebagai pemimpin, Buddha tidak membuat orang-orang tergantung kepada-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Buddha adalah bagaimana membuat orang yang dipimpin meningkatkan kualitas dirinya. Berlindung kepada Buddha pun tak lain dari menjadikan Buddha sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup, bahkan tujuan hidup.

Dengan menghormati Buddha dan nilai-nilai kebuddhaan, umat mendapat dorongan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur, mengambil cinta kasih dan kebijaksanaan Buddha sebagai teladan, dan bekerja keras untuk menjadi sama seperti Buddha. Disadari atau tidak, tiap manusia dapat menjadi Buddha. Manusia memiliki hakikat Buddha atau benih Buddha. Dalai Lama melihatnya sebagai Buddha Kecil, istilah yang dipopulerkan Bernardo Bertolucci melalui filmnya, Little Buddha.

Kebanyakan orang ingin menaklukkan orang lain, Buddha mengajarkan agar kita menaklukkan diri sendiri. Kebanyakan orang mengejar jabatan dan kekayaan. Yang berpeluang dan berjuang, atau bermimpi, semua ingin menjadi penguasa.

Tidak demikian dengan Buddha. Setelah menjadi Buddha, Dia mudah menduduki takhta dan menggunakan kekuasaan pemerintahan untuk menyiarkan agama. Tetapi itu tidak dilakukan. Menurut Buddha, ada yang lebih baik dari kekuasaan di Bumi, lebih baik daripada memerintah seluruh jagat, yaitu kemuliaan memenangi tingkat kesucian.

Pandangan ini tidak menunjukkan Buddha menyangkal perlunya kekuasaan pemerintahan. Dia amat dihormati raja-raja dari berbagai negara dan mengajarkan bagaimana memimpin negara dengan baik, cinta damai, dan menempatkan kesucian di atas kekuasaan dan kekayaan.

Menurut Buddha, pemimpin harus memenuhi sepuluh kewajiban. Etika kekuasaan menyentuh semua kewajiban ini.

Kewajiban pertama mengenai kemurahhatian. Dalam hidup kenegaraan, penguasa bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan kemampuan menjamin keselamatan ekonomi negara.

Kedua, pemimpin harus memiliki moral yang baik sehingga pantas dijadikan teladan dan dijunjung.

Ketiga, sedia berkorban dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Keempat, integritas atau tulus, jujur, dapat dipercaya, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih.

Kelima hingga kesembilan adalah kebaikan hati tanpa mengabaikan tanggung jawab dan keadilan, hidup sederhana, bebas dari amarah, tanpa kekerasan, dan sabar.

Kesepuluh, tidak boleh bertentangan dengan kebenaran atau melawan kehendak rakyat. Terpenuhinya hal-hal ini akan membuat penguasa berwibawa dan kuat posisinya dalam kehidupan berbangsa yang demokratis.

Oleh karena itu, untuk memilih seorang pemimpin, latar belakang kehidupan pribadi dan bagaimana moral orang yang dicalonkan sepatutnya disorot secara terbuka.

Buddha mengingatkan, ada empat penyebab kemerosotan, yang dalam konteks kenegaraan diterjemahkan oleh Aung San Suu Kyi sebagai berikut: Ada yang hilang, yaitu hak-hak demokratis yang diambil oleh kediktatoran militer, dan berbagai usaha belum cukup untuk mendapatkannya kembali. Ada yang rusak, yaitu nilai-nilai moral dan politik yang dibiarkan memburuk. Ada pemborosan karena perekonomian diurus secara ceroboh. Yang terakhir menyangkut moral pemimpin. Krisis politik terjadi saat negara dikuasai orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kebijaksanaan. Salah memilih pemimpin akan membuat kita semakin terperosok dalam kemerosotan.

Ketika kita menginginkan reformasi terus bergulir melalui pemilu dan pemilihan presiden, momentum merayakan Waisak sepantasnya digunakan untuk mengingatkan bahwa ada yang lebih baik dari kekuasaan dan kekayaan, yaitu kesucian. Dan, tidak ada kesucian di luar kebenaran.

Jika seseorang berbicara dan berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya.

Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas: Berusaha menolong semua makhluk. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

RINGKASAN:

Mau menerima nasihat atau kritik dari orang lain. Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya.

Kemauan yang keras membaja. “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.” (saat digoda setan dan lelah bersemedi).

Empowering bawahan. Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa Buddha berkelana menyebarkan Dharma selama 45th lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya akan wafat, Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswa-Nya karena mengandung prinsip-prinsip beragama, seperti Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha; Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup; Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi; Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran; Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang; Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan; Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha. Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia; Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani; Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna; Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran; Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha; Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.

Memotivasi bawahan. Sang Buddha bersabda, “Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!”

Tunjukkan loyalitas pada bawahan. Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna) yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, “Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku.” Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.

Mahatma Gandhi

saltpickupSalah satu sosok manusia yang aku kagumi adalah Mahatma Gandhi. Aku kagum pada karisma, nilai, prinsip dan kesederhanaannya. Ia selalu menolak berpergian kemanapun, kecuali dengan berjalan kaki atau naik kereta kelas tiga dan mengasingkan diri dalam kesederhanaan. Ia nikmati dingin dan kejamnya sinar matahari di musim panas sebagaimana dialami rakyatnya guna mempertajam kecerdasan emosional, sosial dan spritualnya. Ia percaya semakin murni penderitaan, semakin besar kemajuan. Ia memimpin tanpa memaksa, tapi dengan mengajak. Ia dekat dengan orang miskin, mendengarkan keluh kesah mereka, membantu mereka semampunya, tanpa mengumbar janji-janji palsu.

Pinsip Gandhi yang paling ngetop adalah satyagraha, sering diterjemahkan sebagai “jalan yang benar” atau “jalan menuju kebenaran”, telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).

Selain itu Gandhi juga berpesan agar kita menghindarkan tujuh dosa orang-orang yang melanggar prinsip dan menoda hati nuraninya: Kekayaan tanpa kerja, Kenikmatan tanpa suara hati, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa etika, Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, Agama tanpa pengorbanan dan Politik tanpa prinsip.

Tapi siapa sebenarnya Gandhi? Gandhi adalah seorang India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Selesai Perang Dunia I, Gandhi memutuskan untuk meninggalkan semua kemewahannya di Afsel dan kembali ke India (1917) untuk berjuang. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung dan berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat: ”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,” kata Gandhi sambil menyampaikan salam khas bangsa India, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. Pidatonya begitu pendek, karena Ia bukan seorang politikus yang biasa mengumbar janji, tetapi seorang pemimpin yang tahu diri dan rendah hati. Ia mengaku tidak mungkin berbicara banyak karena tidak mengerti negerinya.

Gandhi kembali ke India untuk memperjuangan kemerdekaan India dari jajahan Inggris dan untuk menjaga keutuhan India, di mana kala itu rakyat India dari agama dan suku yang berbeda menuntut agar India dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Pada 1947, akhirnya India merdeka dari Inggris, tapi India juga terpecah menjadi dua negara –India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Apalagi pemisahan ini mengakibatkan kerusuhan merebak di seluruh penjuru India dan memakan banyak korban jiwa, di mana dalam waktu satu minggu ½ juta manusia tewas. Gandhi yang renta bersumpah untuk berpuasa hingga kerusuhan berhenti, dan hal itu dilakukannya hingga membahayakan kesehatannya sendiri. Perjuangan Gandhi ini mendapat perhatian dunia. Akhirnya Inggris kembali untuk membantu mengembalikan keadaan. Dan akhirnya keadaan kembali aman. Setelah India kembali aman dan bersatu, Gandhi ditawarkan tampuk kepemimpinan, namun Ia menolak tawaran tersebut. Karena menurut Gandhi, ambisinya adalah menjaga agar India tetap SATU, ambisinya bukanlah menjadi seorang PENGUASA INDIA.

Ya begitulah Gandhi. Berambisi, tapi tidak ambisius. Semoga kisah Gandhi ini dapat menginspirasi kita semua.

K A R M A

“Dosa adalah harga diri, harus dibayar dengan balas dendam”.

falllu4

Ucapan ini adalah buah dari pikiran dangkal!! Aku rasa balas dendam itu ga ada gunanya. Bila kita disakiti orang, lalu kita balas menyakiti orang itu, kemudian orang itu balas lagi menyakiti kita, lalu kita balas lagi… Duh kapan selesainya donk? Jadinya kayak lingkaran setan.

Apa kalian percaya karma?

Kalo saya pribadi sih percaya. Aku pernah nonton film Andy Lau yang berjudul “running on karma”.. Ini bagus banget.

Ceritanya Andy Lau adalah seorang biksu yang bisa melihat karma seseorang. Suatu hari saudaranya dibunuh oleh orang gila, lalu orang gila itu kabur masuk ke dalam hutan. Andy Lau marah sekali mengetahui saudaranya dibunuh, Andy Lau merasa sangat dendam, lalu Ia meluapkan kemarahannya dengan mencabik daun di pohon dengan pedang. Tiba-tiba ada seekor burung kecil tak berdosa yang kena cabik, burung itu pun mati. Mendadak Andy Lau termangu, dia sangat menyesali perbuatannya. Ia tahu bahwa dia di kehidupan selanjutnya pasti akan seperti burung itu, Ia akan mati dengan cara dicabik-cabik.

Lalu Andy Lau yang despret memutuskan untuk melepas jubah biksunya dan pergi berkelana ke Hongkong. Suatu hari Ia bertemu dengan polisi cantik yang diperankan oleh Cecilia Cheung. Andy Lau melihat karma Cecilia. Di kehidupan lalu, Cecilia adalah seorang tentara Jepang kejam yang gemar memenggal kepala orang. Maka nantinya Cecilia juga akan mati dengan kepala terpenggal. Andy Lau merasa bahwa hidup ini tidak adil. Cecilia di kehidupan sekarang adalah gadis manis yang baik hati, kenapa harus menanggung perbuatan Tentara Jepang dari kehidupan sebelumnya. Andy Lau terus menerus mengutuk Tuhan.

Cerita terus bergulir, Andy Lau makin akrab dengan Cecilia. Sampai suatu hari Cecilia benar-benar mati, kepalanya dipenggal dan ditaruh di pohon. Yang membunuh Cecilia adalah orang gila yang juga membunuh saudara Andy Lau.

Andy Lau makin dendam sama orang gila itu. Andy Lau pergi ke hutan, selama empat tahun Ia terus menerus mencari orang itu. Sampai suatu hari akhirnya dia menemukan apa yang Ia cari. Kemudian saat Andy Lau hampir membunuh itu orang, tiba-tiba Andy Lau KAGET BANGET.

Wajah orang gila itu sama dengan wajahnya. Loh kok bisa?

Karena orang gila itu adalah dendam yang ada di dalam hati Andy Lau. Bila dendam terus melekat, maka hidup tak akan pernah bahagia. Andy Lau juga tersadar, bila Ia membunuh orang gila itu, maka di kehidupan mendatang, Andy Lau juga akan dibunuh dengan cara yang sama.

Pesan moral di sini adalah, meskipun kita yang sekarang harus mengalami karma dari perbuatan kita di kehidupan yang lalu, kita tidak perlu risau. Yang perlu kita lakukan adalah jalanilah kehidupan kita sekarang ini dengan banyak berbuat kebaikan dan kebajikan. Agar di kehidupan mendatang, kita bisa mendapatkan karma baik.

Akhir dari cerita, Andy Lau tidak jadi membunuh orang gila itu. Andy Lau memaafkannya.

WAR IS (NOT) OVER

yoko460

Foto John Lennon ini sudah dirilis sejak 30 tahun yang lalu, tapi lihat… sampai ini hari, perang masih terjadi di mana-mana.

Menurut ramalan, dunia akan kiamat pada tahun 2012.. tapi itu kiamat besar. Kalau kiamat kecilnya uda sering terjadi –dari dulu.

Kiamat kecil baru saja terjadi di Mumbai India. Teroris bertindak bodoh lagi, mereka menghancur leburkan rasa keperimanusiaan. Mereka menorehkan trauma dan menciptakan rasa was-was lagi. Padahal seharusnya manusia itu ”freedom from worry dan freedom from fear”.

OXANA “the dog girl”

Aku nulis artikel ini setelah aku nonton discovery channel yang mbahas soal “anak-anak liar”. Maksud anak-anak liar di sini bukan anak-anak di bawah umur yang jual diri, gemar tawuran, mencuri atau gelandangan. Anak liar di sini adalah anak-anak yang hidup secara liar di hutan atau dibesarkan oleh binatang.

Ada beberapa anak Afrika dirawat Simpanse sejak lahir, ya kayak tarzan gitu deh. Ada juga di India, anak kembar yang sejak lahir hidup dipanti asuhan, tapi ditelantarkan bersama Serigala, sehingga perilaku mereka kayak Serigala gitu. Tapi yang paling menyedihkan adalah kisah Oxana dari Ukraina.

Oxana Malaya lahir pada November 1983. Saat Ia berusia tiga tahun, orang tuanya yang pemabuk tak sanggup (atau tak mau) lagi merawat Oxana, sehingga mereka membuang Oxana ke taman belakang rumah, di mana Oxana akhirnya hidup bersama anjing-anjing.

Selama lima tahun, Oxana besar, tidur, bermain bersama anjing. Selama itu pula Ia hanya makan daging mentah dan sampah (sehingga pertumbuhan giginya jadi aneh). Sampai akhirnya, saat Oxana berusia delapan tahun (1991), tetangganya melaporkan hal tersebut ke polisi. Saat polisi dan masyarakat menjemput Oxana, mereka terkejut bukan kepalang melihat perilaku Oxana yang berbeda jauh dari anak normal.

Ia berjalan dengan empat kaki, Ia menggonggong, mencakar, dan mengendus seperti layaknya seekor anjing. Sungguh menyedihkan ..

Saat ditemukan, Oxana juga tidak bisa bicara bahasa manusia, tak bisa berinteraksi dan tak memahami nilai-nilai sosial. Kontrasnya, Ia malah memiliki indera pendengaran, penciuman dan penglihatan yang sangat ekstrim hebat!

Setelah polisi menyelamatkannya dari kandang anjing, Oxana dirawat di klinik Baraboy, Odessa untuk menyembuhkan dia dari keterbelakangan mental. Kini Oxana yang sudah berusia 25 tahun sudah bisa bicara dan masalah perilakunya (dog-like habits) sedikit demi sedikit sudah mulai bisa diperbaiki.

Hmm..aku marah dan sedih banget ngeliat kasus Oxana! Kok orangtuanya tega amat? Anak adalah titipan Tuhan, kalau emang mereka ga mau merawat anak mereka, lebih baik jangan buat anak atau titipkan saja anak mereka kepada MANUSIA yang sanggup merawat, bukan kepada HEWAN!

Inget-inget ya kalau anak itu lahir ke dunia seperti sebuah kertas yang polos, orang tualah yang bertanggung jawab terhadap isi dari kertas itu nantinya dan masa pertumbuhan adalah masa yang paling kritis dalam hidup manusia (critical period).

Critical period is a limited time in which an event can occur, usually to result in some kind of transformation. A “critical period” in developmental psychology and developmental biology is a time in the early stages of an organism’s life during which it displays a heightened sensitivity to certain environmental stimuli, and develops in particular ways due to experiences at this time. If the organism does not receive the appropriate stimulus during this “critical period”, it may be difficult, ultimately less.

Jadi semisal seorang anak diajak bicara dalam bahasa Perancis, Cina dan Indonesia sejak kecil, maka bahasa itu akan jadi bahasa Ibunya. Lalu misalnya sejak kecil dibiasakan menggunakan tangan kanan dalam memegang sendok, menulis dll, maka Ia seterusnya pasti akan begitu.

Oke, jadilah orang tua saat Anda merasa benar-benar SIAP menjadi orang tua yang baik!

Look this video:

http://www.youtube.com/watch?v=qyqbnDjId7g

good business, good ethics, good indonesia

PENDAHULUAN

Persaingan bisnis yang semakin ketat menyebabkan para pengusaha berusaha mengikuti laju praktek bisnis pesaing dan melakukan berbagai upaya untuk meraih market share, terkadang mereka menggunakan jalan singkat untuk meraup keuntungan dengan mengabaikan tanggung jawab sosial dan etika bisnis, seperti merusak lingkungan hidup, melakukan korupsi (suap atau penggelapan pajak), merampas hak-hak kemanusiaan (diskriminasi) dan praktek child labor atau perbudakan (Lasserre, 2003:398).

Dengan menipu dan melakukan praktek kurang etis, keuntungan memang bisa diraih untuk sementara waktu, tetapi sekaligus berfungsi sebagai bom waktu yang akan menghancurkan perusahaan pada jangka panjang (Bertens, 2000:387). Perilaku kurang etis juga akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat yang akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar atau larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan (Santosa, 2007:2). Berikut contoh tindakan perusahaan yang tidak beretika.

Less Cost, High Profit

Pada tahun 90an, Nike pernah diboikot di beberapa negara akibat mempekerjakan anak-anak Asia (terutama India, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia) yang berusia 10-14 tahun di lingkungan pabrik yang tidak sehat -penuh dengan bau lem yang menyengat, selama 70 jam seminggu dengan upah yang sangat rendah (Joseph, 1996). Produk yang dihasilkan anak-anak Asia tersebut, kemudian dijual dengan harga mahal di negara barat. Hal ini menunjukkan bahwa Nike hanya mementingkan laba semata.

Eksploitasi

Selain itu, tindakan yang tak beretika lainnya adalah eksploitasi berlebih, yang seringkali terjadi di Indonesia. Seperti melubernya lumpur dan gas panas di Kabupaten Sidoarjo akibat eksploitasi gas PT Lapindo Brantas sejak 29 Mei 2006 (Pin, 2006) yang merugikan penduduk sekitar -baik secara moril maupun materiil. Kemudian yang juga sangat memprihatinkan adalah pengusaha kayu yang melakukan penebangan hutan besar-besaran untuk menuai kayu gelondongan.

Tim dari Yale’s Center for Law and Environmental Policy dan Columbia’s Center for International Earth Science Information Network memperkenalkan Environmental Performance Index (EPI), sebuah metrik sederhana yang berisi nilai 100 (the greenest) sampai 0 (the least green) sebagai pengukur komprehensif mengenai bagaimana suatu negara memperhatikan dan menyelamatkan lingkungan. Kategori yang dinilai antara lain kehutanan, emisi karbon, kualitas air dan sebagainya. Indonesia berada pada peringkat yang buruk, yakni peringkat 102 (tertinggi adalah Switzerland dengan peringkat 1 dan terakhir adalah Nigeria dengan peringkat 147). Lalu pada kategori kehutanan, Indonesia menempati posisi paling akhir dengan skor 0.

shrinking-forest

Lovejoy (2008:83) memaparkan di tahun 1990 saja Sumatera telah kehilangan 35% hutan dan Kalimantan kehilangan 19%. Hutan yang makin gundul akan mengganggu ekosistem, berdampak buruk bagi manusia karena emisi karbon yang dihasilkan menjadi semakin besar (85%), serta mengancam populasi Badak Sumatra dan Orang Utan Kalimantan ke ambang kepunahan. Tentu saja hal ini sangat menakutkan, apalagi praktek illegal logging juga marak terjadi di hutan-hutan Indonesia. World Wide Fund (WWF), organisasi lingkungan hidup terbesar memberikan gambaran ironis mengenai hutan di pulau Kalimantan mulai tahun 1950 hingga tahun 2020. Di mana seperti yang terlihat pada gambar 1 (Shrinking Forests in Borneo, WWF, 2008). bila pohon terus ditebangi, maka pada tahun 2020, pulau Kalimantan akan kehilangan hutan.

ETIKA MENCIPTAKAN REPUTASI DAN LABA

Secara ekonomi, bisnis adalah baik, kalau menghasilkan laba. Sedangkan secara etika, bisnis adalah baik bila dilakukan sesuai dengan hati nurani, berdasar kaidah emas dan terdapat penilaian dari masyarakat umum atau audit sosial (transparansi, keterbukaan, tidak ada yang disembunyikan). Kaidah emas merupakan anjuran dari filsuf Immanuel Kant, “hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana anda sendiri ingin diperlakukan” (Bertens, 2000:27-32).

Etika bisnis dirasa penting, karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi, serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis, organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal, serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. (Santosa, 2007:2)

Beberapa akademisi dan praktisi bisnis melihat adanya hubungan sinergis antara etika dan laba. Menurut mereka, justru di era kompetisi yang ketat ini, berbisnis di jalan lurus, peduli pada lingkungan dan komunitas -dapat menciptakan reputasi baik perusahaan di mata konsumen atau pasar (domestik bahkan global) dan ini merupakan sebuah daya saing yang sulit ditiru (Pin, 2006). Dengan beretika, reputasi lokal bisa berkembang menjadi reputasi nasional dan reputasi nasional menjadi reputasi internasional dan hal ini juga bisa meningkatkan laba perusahaan.

Contohnya adalah produk buatan China yang pernah menggemparkan dunia dengan kasus lead paint pada boneka Barbie dan heboh kasus formalin pada makanan ringan buatan China yang beredar di Indonesia. Ironisnya, produk-produk buatan China yang bermasalah tersebut telah lama akrab dikonsumsi masyarakat. Tentunya timbul kekhawatiran konsumen seberapa banyak kadar racun yang telah mengendap dalam tubuh, bagaimana efeknya terhadap kesehatan mereka di kemudian hari, bagaimana jika mereka tiba-tiba jatuh sakit. Selanjutnya akan timbul kekecewaan terhadap produk China, karena produsen tidak peduli terhadap kesehatan konsumennya, produsen tidak bertanggung jawab dan produsen seenaknya dalam mencari untung. Akhirnya timbul ketakutan dan trauma terhadap produk China, orang menghindari produk buatan China karena imej yang terlanjur buruk. Bahkan sekelompok masyarakat akan melakukan boikot dan tuntutan hukum. Kondisi ini akan memukul balik industri China karena beberapa produsen yang tidak bertanggung jawab menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan, membuat keseluruhan industri China mendapat citra buruk di mata dunia (Lilyani, 2007:7). Di sini dapat dikatakan bahwa reputasi yang buruk, membuat masyarakat dunia telah kehilangan rasa percaya pada produk China.

INTEGRITAS SEBAGAI PONDASI DASAR

“Integrity is telling myself the truth. And honesty is telling the truth to other people” (Spencer Johnson)

Menurut Rudito dan Famiola (2007:66), dari sekian banyak faktor etika yang telah dipertanyakan kepada para pemimpin perusahaan -kejujuran adalah tiang utamanya. Jujur dapat diartikan dengan dapat dipercaya (integritas). Tocqueville (1831) dalam Rudito dan Famiola (2007:66) mengatakan bahwa integritas dan tingkah laku yang berkenaan dengan etika harus menjadi landasan dalam hidup personal dan profesional. Jon M Huntsman (2005) dalam Pin (2006) menambahkan bahwa kunci utama kesuksesan adalah reputasinya sebagai pengusaha yang memegang teguh integritas dan kepercayaan pihak lain. the-interests-of-all-stakeholders

Banyak pandangan menyebutkan dengan membangun kepercayaan, diyakini bahwa suatu perusahaan sudah pasti berperilaku etis. Walaupun sebenarnya perilaku beretika tidak cukup hanya dengan meningkatnya kepercayaan. Namun kepercayaan bisa diangkat sebagai poin dasar yang banyak dijadikan sebagai indikator bahwa suatu perusahaan bisa dianggap beretika atau tidak. Steiner (2006) dalam Rudito dan Famiola (2007:67) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika, yaitu kepemimpinan, strategi dan performasi, budaya perusahaan, dan karakter individual.

Kepemimpinan

Peran manajerial dalam menjalankan suatu perusahaan adalah sangat sentral, sebab para manajerlah yang mengambil keputusan penting dalam menjalankan seluruh aktivitas perusahaan. Kepemimpinan yang beretika menggabungkan antara pengambilan keputusan dan perilaku yang beretika. Michelli (2007:178-183) mengatakan bahwa tindakan manajer mengandung dampak yang besar sekali terhadap individu dan masyarakat. Badaracco (2003:151) menambahkan bahwa untuk sukses, pemimpin harus menegoisasikan visi etika mereka dengan shareholder, customer, employees dan pihak-pihak terkait lainnya atau yang disebut sebagai stakeholder.

Dalam perspektif sebuah perusahaan, etika memiliki hubungan yang dekat dengan trust bagi dan terhadap stakeholder-nya, karena itu pemimpin perlu mempertimbangkan kepentingan para stakeholder. Seperti memperhatikan kesejahteraan karyawan, menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat, mempromosikan kesempatan yang sama bagi karyawan di setiap tingkatan, menghindari perilaku diskriminasi (gender, ras, agama), tidak mengeksploitasi anak-anak, tidak melakukan pelecehan fisik dan seksual. Perusahaan juga harus peduli terhadap lingkungan hidup, masyarakat di sekitar pabrik dan lain sebagainya.

Salah satu contoh mengenai kepemimpinan yang mempengaruhi bisnis menjadi terpercaya dan beretika adalah kepedulian sosial yang menjadi bagian yang integral dalam misi para pemimpin Starbucks. Eksekutif Starbucks memiliki komitmen yang monumental terhadap perlindungan perusahaan dan komunitas yang meliputi: memastikan kesejahteraan staf mereka sendiri, menjadi relawan/wati di lingkungan sekitar, memperhatikan kualitas hidup para pemasok produk, transparansi ekonomi melalui rantai suplai, pemberian dana bantuan yang besar untuk organisasi-organisasi komunitas nasional, pemberian dana untuk organisasi nirlaba setempat, menjaga keberlangsungan secara terencana untuk generasi di masa depan. Dan itu hanya sebagian dari pendekatan aktif Starbucks dalam bidang sosial.

Starbucks berkomitmen terhadap peran kepemimpinan berwawasan lingkungan di semua aspek bisnis. Starbucks memenuhi misi dengan komitmen memahami masalah lingkungan dan berbagi informasi dengan mitra, menciptakan solusi inovatif dan fleksibel untuk membawa perubahan, berusaha keras membeli, menjual dan menggunakan produk yang ramah lingkungan, menyadari bahwa tanggung jawab fiskal penting artinya bagi masa depan lingkungan, menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai sebuah nilai perusahaan, mengukur dan memonitor perkembangan setiap proyek, serta memotivasi semua mitra untuk bekerja sama dalam mendukung misi Starbucks. Manajemen Starbucks telah sukses membangkitkan kepercayaan para stakeholder dengan berusaha memelihara kesejahteraan pegawai, melayani pelanggan, mempersembahkan produk bermutu, memperkaya investor, dan memperbaiki komunitas dengan cara membantu lingkungan.

Melalui komitmen terhadap tanggung jawab sosial, pemimpin Starbucks telah membuka kesempatan bagi para mitra sehingga mereka bisa memberikan dampak yang lebih nyata ke dunia luas. Dengan membimbing anggota staf mereka untuk berpikir dan bertindak dalam cara-cara yang bermanfaat bagi masyarakat dan masalah-masalah sosial yang penting, para pemimpin Starbucks membantu pegawai untuk menyadari kekuatan mereka dalam menciptakan perubahan. Kesadaran semacam itu memotivasi semua pegawai Starbucks untuk menjadi apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, yaitu “Perubahan yang ingin kita lihat di dunia”. (Michelli, 2007:203)

Dari contoh di atas, Doug Lennick dan Fred Kiel (2005) dalam Pin (2006) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin yang menerapkan standar etika dan moral yang tinggi terbukti lebih sukses dalam jangka panjang. Seperti halnya Starbucks yang sejak tahun 1992, nilai sahamnya terus meningkat secara luar biasa sebesar 5000 persen. Starbucks berhasil mempertahankan kualitasnya sambil terus berekspansi secara agresif. Sekarang ini, Starbucks membuka lima kedai baru setiap harinya, 365 hari per tahun. Perusahaan ini diakui secara konsisten oleh Fortune sebagai salah satu perusahaan Amerika yang paling dikagumi dan terbaik. Sementara Business Ethic memasukkan Starbucks dalam daftar perusahaan yang paling peduli terhadap masalah sosial setiap tahunnya. (Michelli, 2007:4)

Strategi dan Performasi

Sebuah fungsi penting dari manajemen adalah untuk kreatif dalam menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaannya mencapai tujuan perusahaan terutama dari sisi keuangan tanpa harus menodai aktivitas bisnisnya dari berbagai kompromi etika. Sebuah perusahaan yang buruk akan memiliki kesulitan besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai perusahaannya dengan standar-standar etika. Karena keseluruhan strategi perusahaan yang disebut excellence harus bisa melaksanakan seluruh kebijakan-kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang jujur.

Banyak perusahaan yang menggunakan program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai strategi mereka dalam berbisnis. Tapi perlu diingat bahwa sebuah perusahaan dianggap memiliki tanggung jawab sosial bila dengan serius menjalankan kewajibannya terhadap semua stakeholder-nya. Jadi ini bukan mengenai apakah sebuah perusahaan mensponsori ajang-ajang lokal atau program-program lingkungan, atau memiliki sebuah yayasan yang menyediakan dana untuk amal. Ini menyangkut pengembangan sebuah reputasi integritas sehingga tumbuh rasa percaya antar pegawai, investor, pelanggan, pemasok, dan komunitas mereka (Steve Priest dalam Michelli, 2007:183).

Salah satu contoh faktor strategi dan performasi yang dapat mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika adalah kisah Anita Roddick pendiri The Body Shop, perusahaan yang terkenal akan kepeduliannya terhadap lingkungan. Awalnya, Anita yang tidak punya cukup modal, membuat produk kosmetik menggunakan bahan-bahan lazim yang mudah didapat, lalu dikemas dalam wadah plastik kecil daur ulang. Tak ada yang menonjol dalam produksinya. Yang istimewa adalah upaya yang dilakukan Anita mengubah kelemahan menjadi kekuatan pemasaran. Karena bahan-bahannya bukan sesuatu yang baru, produk kosmetik sederhana itu tidak memerlukan uji apa pun. Anita menutupi “keterbelakangan” produknya dengan kampanye anti-animal testing. Lalu, ketidakmampuannya membeli kemasan “wah”, dipulas dengan kampanye cinta lingkungan (yakni penggunaan botol bekas atau produk yang dibeli konsumen tidak diberi kantong plastik dengan alasan mengurangi penimbunan sampah). Tak mampu menyewa lokasi yang eksklusif, Anita mengambil lokasi di antara dua funeral parlor. Dinding toko dicat warna hijau untuk menyembunyikan noda karena rembesan air, tapi warna hijau ini diasosiasikan sebagai warna cinta lingkungan.

Pola pikir seperti ini mendorong Anita mengembangkan falsafah bisnis yang unik yaitu menciptakan keuntungan dengan memegang teguh prinsip. Ia bukan sekedar mau meraup keuntungan, melainkan ingin menciptakan perubahan sosial dan lingkungan. Pada era pertumbuhannya, Anita mendukung kampanye GreenPeace, jendela dan dinding toko The Body Shop dipenuhi poster Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan yang menentang pembuangan bahan berbahaya ke Laut Utara. Anita juga memanfaatkan truk dan tas The Body Shop untuk menyampaikan pesan lingkungan. The Body Shop juga mendukung kampanye penyelamatan paus, Amnesty International, penyelamatan hutan hujan, Friends of the Earth, dan sebagainya. Anita juga gencar mendukung promosi untuk membangun kesadaran terhadap AIDS, mendorong daur ulang, menghentikan praktek uji dengan binatang. Terkait dengan binatang, The Body Shop menghindari bahan-bahan hewani. Anita banyak pula mencurahkan perhatian untuk pemberdayaan komunitas di negara-negara Dunia Ketiga. Ia tidak mengeksploitasi para buruh di negara Dunia Ketiga tersebut dan memberikan gaji sebanding dengan buruh di Inggris. Anita membeli bahan baku produk dari para petani negara miskin dengan harga pantas dan Anita adalah pencetus dilakukannya audit sosial.

Sentuhan midas Anita yang juga menjadi strateginya dalam berbisnis membuat The Body Shop mengalami pertumbuhan rata-rata 50% per tahun selama satu dasawarsa pertama. Tak mengherankan, ketika sahamnya diluncurkan pertama kali pada April 1984 nilainya langsung meroket. Dan Januari 1986 sudah terdaftar penuh di Bursa Efek London dan diperdagangkan 8,6 kali lebih tinggi daripada harga perdana. Pada tahun 1991, The Body Shop melambungkan Anita ke jajaran perempuan terkaya di Britannia Raya. Sayangnya di kemudian hari, Anita terlalu berkonsentrasi meluncurkan proyek-proyek lingkungan daripada meremajakan produknya yang mulai menua. Ia mengabaikan strategic plan dan struktur manajemen yang jelas. Nilai saham The Body Shop anjlok, akhirnya Anita menyerah dan menjual The Body Shop kepada L’Oreal Paris pada Maret 2006. (Sarnianto, 2007)

Berdasarkan cerita di atas, kita dapat meresapi beberapa hal penting, yang pertama adalah bahwa bertanggung jawab sosial bisa dijadikan alat strategi dan daya saing yang tidak mudah ditiru. Namun bukan sekedar strategi belaka untuk meraup keuntungan, tetapi dengan konsisten menjalankan tanggung jawab sosial tersebut dengan integritas. Kedua, bertanggung jawab sosial memberikan keuntungan jangka panjang, yakni berupa reputasi. Sehingga meski saham The Body Shop sempat anjlok dan terjadi pergantian kepemilikan, namun tetap bisa bangkit kembali. Ketiga, good ethics adalah good business, tapi jangan pernah lupakan margin (Manley, 2008). Karena dari cerita di atas, tampak bahwa Anita lupa pada bisnis, akibat terlalu konsentrasi pada etika. Kini Anita telah meninggal dunia, namun warisan yang paling berharga darinya adalah falsafah bisnis yang penuh tanggung jawab social

Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu perusahaan. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercaya sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya perusahaan membantu terbentuknya nilai dan moral di tempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholder-nya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan salah satu cara untuk membangun budaya perusahaan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. (Rudito dan Famiola, 2007:71)

Budaya meletakkan kiprah moral dalam suatu organisasi, dan budaya hadir dari atas ke bawah (Al Gini dalam Vanasco, 2008). Praktek penerapan etika bisnis yang paling sering kita jumpai pada umunya diwujudkan dalam bentuk buku saku “code of conducts” atau kode etik di masing-masing perusahaan. Hal ini barulah merupakan tahap awal dari praktek etika bisnis yakni mengkodifikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis bersama-sama budaya perusahaan, ke dalam suatu bentuk pernyataan tertulis dari perusahaan untuk dilakukan dan tidak dilakukan oleh manajemen dan karyawan dalam melakukan kegiatan bisnis. (Santosa, 2007)

Salah satu contoh faktor budaya perusahaan yang dapat mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika adalah Conoco Philips (CP). CP -perusahaan multinasional petrochemical dari Amerika Serikat, menganggap bahwa reputasi adalah segalanya dan mereka mempraktekkan kejujuran dan bisnis yang beretika sebagai inti dari setiap pengambilan keputusan bisnis, pada setiap tingkatan dalam perusahaan. CP memiliki komitmen jangka panjang dalam memelihara standar etika tertinggi dengan mengadopsi sebuah budaya yang menghargai kejujuran, integritas dan pertanggung jawaban pada setiap hal yang dilakukan. Operasi yang dijalankan CP dituntun oleh seperangkat nilai inti etikal yang dinamakan “SPIRIT of Performance” yakni Safety, People, Integrity, Responsibility, Innovation and Teamwork. the-spirit-of-performance-conoco-philips

Kehebatan budayanya, membuat CP mampu beroperasi dengan cara yang handal dan menguntungkan, serta membuat CP mampu mengatasi berbagai tantangan dalam industri minyak dan gas alam internasional yang persaingannya semakin ketat. Kapitalisasi pasar CP pada akhir tahun 2007 adalah sebesar $139 milyar, yang menunjukkan peningkatan 17 persen dari tahun 2006. Peredaran saham perusahaan pada tanggal 31 Desember 2007 berjumlah 1.571 juta lembar, dengan harga penutupan akhir tahun sebesar $88,30. Total laba pemegang saham perusahaan untuk 2007 sebesar 25,4 persen, urutan kedua di antara perusahaan sejenis. Laba tahunan CP bagi pemegang saham selama jangka waktu tiga tahun sebesar 29,4 persen dan selama jangka waktu lima tahun sebesar 32,6 persen. (Mulva, 2008:5)

Karakter Individu

“When I do good, I feel good; when I do bad, I feel bad. That’s my religion” (Abraham Lincoln)

Perjalanan hidup suatu perusahaan tidak lain adalah karena peran banyak individu dalam menjalankan fungsi-fungsinya dalam perusahaan tersebut. Perilaku para individu ini tentu akan sangat mempengaruhi pada tindakan-tindakan mereka di tempat kerja atau dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Menurut Irwin (2001) dalam Rudito dan Famiola (2007:72) perilaku etika seseorang dalam suatu organisasi akan sangat dipengaruhi nilai-nilai, norma-norma, moral dan prinsip yang dianutnya dalam menjalankan kehidupannya, yang kemudian bisa dianggap sebagai kualitas individu tersebut.

Semua kualitas individu itu nantinya akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang diperolah dari luar yang kemudian menjadi prinsip yang dijalani dalam kehidupannya dalam bentuk perilaku. Faktor-faktor tersebut adalah pengaruh budaya, pengaruh organisasi tempatnya bekerja dan pengaruh kondisi politik dan perekonomian global di mana dia hidup. Sesuai dengan peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Bila pemimpin tidak menghormati peraturan yang telah ditetapkan bersama, maka bawahannya akan meniru. Bila pemerintah (anggota dewan) terus melestarikan budaya korupsi, maka tak heran bila rakyatnya (dalam hal ini pengusaha) juga akan melakukan hal yang sama.

PERANAN PEMERINTAH

Dari pembahasan di atas, dapat kita lihat betapa etika bisnis itu penting adanya. Namun, ternyata di Indonesia jarang tampak keyakinan bahwa moralitas yang baik merupakan salah satu kunci untuk berhasil di bidang bisnis. Dalam diskusi tentang etika bisnis, berulang kali terdengar keluhan “kita pasti kalah dalam bisnis, kalau berpegang pada etika”. Maksudnya tentu kalah terhadap pengusaha-pengusaha lain yang tidak peduli dengan etika. Mengapa para pengusaha Indonesia demikian pesimis?

Menurut Bertens (2000:389), di Indonesia memang cukup lama etika bisnis mengalami kesulitan karena tidak didukung oleh suatu kerangka sosial-politik yang sehat. Salah satu buktinya, di Indonesia tidak kekurangan skandal-skandal bisnis dan tidak satu pun diselesaikan sampai tuntas, karena adanya bekingan dari pihak penguasa. Padahal dalam melestarikan etika bisnis dalam perusahaan, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk bertindak. Guterl dan Sheridan (2008:43-49) mengatakan bahwa dalam daftar EPI, Switzerland bisa meraih peringkat 1 (the greenest) dengan skor 95.5, karena Switzerland memiliki pemerintahan yang stabil dan peduli terhadap lingkungan hidup. Berbeda halnya dengan negara-negara Afrika yang berada di peringkat bawah, mereka memiliki pemerintahan yang korup dan rezim yang tidak stabil. Apa yang terjadi di Afrika, juga terjadi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tabel Corruption Perception Index (CPI) yang dipublikasikan oleh Transparency International -sebuah non-governmental organization berikut ini.

Melalui tabel CPI di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2007, Indonesia berada pada peringkat 143 dengan skor 2.3 (highly corruption), ini merupakan prestasi yang luar biasa memalukan. Memang dari tahun ke tahun, praktek korupsi di Indonesia terus merajalela dan korupsi akut banyak terjadi pada industri kontrak kerja publik, konstruksi, tenaga dan energi, pertambangan, telekomunikasi, penerbangan dan perbankan (Lasserre, 2003:398), mengakibatkan bangsa ini kian terpuruk. Kwik (2003:4) menambahkan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia disebabkan karena bobroknya perilaku penguasa dan pengusaha kita. Tidak adanya etika bisnis yang baik merupakan akar terjadinya KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Kerusakan oleh KKN yang sudah menjelma menjadi kerusakan pikiran, perasaan, moral, mental dan akhlak membuahkan kebijakan-kebijakan yang sangat tidak masuk akal. KKN adalah sumber dari segala permasalahan yang tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi saja, tapi juga dalam segala bidang (Kwik, 2003:10). corruption-perception-index-lambsdorff

Karena itu, untuk menuju masa depan yang lebih baik, kita harus melakukan perubahan -merevolusi budaya, yaitu dengan memperbaiki moral bangsa terlebih dahulu, menumpas KKN dan membenahi pemerintahan. Kemudian masing-masing dari kita juga harus memperbaiki diri sendiri. Karena bila diri kita (dalam hal ini pengusaha) terus-menerus mengabaikan etika bisnis, kerugian yang dibawa tidak saja buat masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara (Dalimunthe, 2004:6). Dan jika nama Indonesia makin buruk di mata dunia internasional, maka tak heran bila investor asing lari dari negara ini. Seperti yang diungkapkan oleh Nugroho (2000) bahwa Wilshire Associates sebuah konsultan investasi di Amerika, pada 22 Februari 2002 memberi rekomendasi kepada kliennya, California Public Employees’ Retirement System’s (CalPERS -sebuah perusahaan dana pensiun raksasa) untuk menarik semua investasinya dari Indonesia, atas dasar penilaian: transparansi, stabilitas politik, dan perlakuan terhadap para pekerja yang dianggap tidak memadai.

PENUTUP

Perusahaan membutuhkan daya saing yang tidak mudah ditiru untuk mengatasi persaingan bisnis yang kian sengit. Salah satu cara adalah dengan menjalankan etika bisnis, seperti memperhatikan lingkungan, human rights, labor practices dan anti korupsi. Etika bisnis dianggap penting, karena dapat menghasilkan reputasi lokal yang bisa berkembang menjadi reputasi nasional, bahkan internasional. Dan bila reputasi perusahaan baik, maka akan berimbas pula pada peningkatan laba. Namun tak mudah melakukan ini semua, karena ada beberapa tantangan yang harus dihadapi perusahaan, seperti:

  • Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dengan integritas sebagai pondasinya, serta mampu memegang teguh komitmen dan selalu konsisten dalam menerapkan etika bisnis.
  • Membangun budaya di mana standar dan nilai adalah pusat dari strategi perusahaan, serta memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan yang mendukung performasi etika.
  • Menciptakan karakter individu yang selalu mencerminkan perilaku beretika.

Perusahaan harus mampu menghadapi tantangan-tantangan tersebut, karena perusahaan tidak saja membawa nama baiknya sendiri, tetapi juga nama baik negara. Begitupula sebaliknya, dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk bertindak, memperbaiki moral bangsa, menumpas KKN serta menjaga kestabilan politik. Tetapi bila pemerintah tidak bisa diharapkan untuk bertindak, maka peran masyarakat, terutama melalui badan-badan pengawasan, LSM, media, dan konsumen yang kritis amat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan etika bisnis di Indonesia, agar Indonesia dapat menuju masa depan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

  • Badaracco, Joseph L. 2003. The Disciple of Building Character. Harvard Business Review on Corporate Ethics. Harvard Business Publishing Corp., US.
  • Bertens, K. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
  • Boatright, John R. 2000. Ethics and the Conduct of Business, Third Edition. Prentice-Hall, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.
  • ConocoPhilips. 2008. ConocoPhillips Values, Policies and Positions. ConocoPhilips (Online). http://www.conocophillips.com/social/values_policies/index.htm diakses 10 Juli 2008 Pk.00.15.
  • Dalimunthe, Ritha F. 2004. Etika Bisnis. Makalah Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
  • Guterl, Fred dan Barrett Sheridan. 2008. Green Countries: A Global Report Card on Nations Doing The Most and Least, To Clean Up The Environment. Newsweek 7-14 Juli 2008 Hal.43-49.
  • Joseph, Joel D. 1996. Our Purchases Keep Children in Chains. Boycott Nike (Online). http://www.saigon.com/~nike/childlabor.htm diakses 12 Juli 2008 Pk. 10.00.
  • Kwik, Kian Gie. 2003. Kebijakan Ekonomi Pemerintah RI: Tinjauan Etika Bisnis. Makalah Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhamaadiyah ke 26, Jakarta 3 Oktober 2003.
  • Lambsdorff, J. Graf. 2007. 2007 Transparency International Corruption Perceptions Index. Transparency International Hal. 4-7.
  • Lasserre, Philippe. 2003. Global Strategic Management. Palgrave Macmillan, New York.
  • Lilyani. 2007. Implementasi Strategi Price Leadership Pada Produk Makanan dan Mainan Buatan China: Sebuah Pandangan dari Sisi Etika Bisnis. Makalah Etika Bisnis, Universitas Widya Mandala Surabaya.
  • Lovejoy, Thomas. 2008. The Threat From Trees. Newsweek 7-14 Juli 2008 Hal.83.
  • Manley, Stuart. 2008. Good ethics are good business (but don’t forget your margins). IOBA Standard (Online). http://www.ioba.org/newsletter/archive/V10/ethics.php diakses 3 Juli 2008 Pk. 20.00.
  • Michelli, Joseph A. 2007. The Starbuck Experience: 5 Prinsip untuk Mengubah Hal Biasa menjadi Luar Biasa. Esensi Penerbit Erlangga, Jakarta.
  • Mulva, James J. 2008. Laporan Tahunan ConocoPhilips: Menghantarkan Energi, Membangun Nilai.
  • Nugroho, Ari. 2002. Corporate Social Responsibility. Hukum Online: http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=5334&cl=Kolom diakses 5 Juli 2008 Pk. 22.10.
  • Pin, It. 2006. Etika dan Bisnis. Kompas Cyber Media (Online). http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0606/30/opini/2734491.htm diakses 2 Juli 2008 Pk. 12.00.
  • Rudito, Bambang dan Melia Famiola. 2007. Etika Bisnis Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di Indonesia. Rekayasa Sains, Bandung.
  • Santosa, Setyanto P. 2007. Membangun dan Mengembangkan Etika Bisnis Dalam Perusahaan. Pacific Link (Online). http://kolom.pacific.net.id/ind diakses 9 Juli 2008 Pk. 22.00.
  • Sarnianto, Prih. 2007. Legacy Seorang Ex Hippie. SWA Sembada No.21/XXIII/27 September – 7 Oktober 2007 Hal. 90-97.
  • Vanasco, Jennifer. 2008. Robert Fogel Among Experts Who Say Good Ethics is Good Business. GSB News (Online). http://www.chicagogsb.edu/news/2005-06-16h_ethics.aspx diakses 3 Juli 2008 Pk. 11.30.
  • WWF. 2008. Threats to Borneo forests. World Wide Fund (Online). http://www.panda.org/ diakses 8 Juli 2008 Pak. 16.00.

Reformasi dan Hukum

Reformasi membuat hukum menjadi lebih fleksibel, tidak statis dan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Dahulu kala rakyat tidak berani berpendapat, tidak berani bersuara, karena takut pada penguasa, tetapi setelah reformasi 1998, rakyat menjadi lebih berani dan terbuka dalam mengemukakan pendapat dan aspirasinya. Reformasi hukum telah menelurkan ratusan undang-undang (UU) baru, melahirkan sistem hukum campuran antara sistem Eropa Kontinental, Anglo-Amerika, sistem hukum Islam dan sistem hukum Adat. Reformasi hukum juga telah melahirkan lembaga-lembaga peradilan baru, seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Pengadilan Hubungan Industrial, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Niaga juga Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Setelah reformasi, muncul banyak UU yang terkait dengan pemberantasan korupsi, seperti UU Anti Pencucian Uang, UU Perlindungan Saksi dan Korban, UU Kebebasan Informasi dan sebagainya. Selain itu, dibentuk pula suatu wujud pemihakan kepada rakyat untuk menghukum para koruptor yaitu komisi anti korupsi yang independen dan perkasa, sehingga para koruptor harus berpikir dua kali sebelum melakukan aksi busuk mereka. Bahkan sejak KPK didirikan, banyak sekali kasus korupsi dan suap yang terkuak, kasus terakhir yang masih dalam proses adalah ”Ayin menyuap jaksa”.

Setelah reformasi, rakyat juga menjadi lebih kritis. Hukum yang dibuat bila dirasa tidak masuk akal atau merugikan rakyat, maka bisa dituntut untuk dieliminasi atau direvisi. Hal ini sesuai dengan asas demokrasi kita, yaitu dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat, maka hukum dan UU dibuat sebaik mungkin untuk kesejahteraan rakyat. Salah satu UU yang dibuat untuk kesejahteraan rakyat adalah UU yang mengatur perihal Hak Asasi Manusia (HAM). Bila dulu, rakyat kita seperti boneka yang diam saja meski tersiksa, namun kini tidak lagi. demo

Reformasi demokratik telah berhasil menekan pemerintah Indonesia untuk meratifikasi banyak dokumen HAM internasional, seperti Kovenan tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, Kovenan tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, konvensi-konvensi International Labour Organization (ILO) dan sebagainya. Indonesia juga telah menciptakan instrumen HAM nasional, seperti UU No. 36 tahun 1999 tentang HAM, UU No. 26 tahun 2000 tantang Pengadilan HAM yang mengadopsi Statuta Roma tentang Mahkamah Kriminal Internasional dengan “penerjemahan yang menyimpang”. Indonesia membuat UU Pengadilan HAM tahun 2000 bukan karena setuju untuk meratifikasi Statuta Roma mengenai ICC, namun justru untuk menghindari ratifikasi statuta tersebut guna melindungi para jenderal Indonesia yang melakukan kejahatan HAM di Timor Timur agar tidak diadili di Mahkamah Kriminal Internasional. Para perwira itu akhirnya diadili di pengadilan HAM dalam negeri, walaupun di antara mereka telah dihukum oleh pengadilan tingkat pertama namun akhirnya bebas pada tingkat banding dan kasasi. Begitu pula para perwira polisi yang telah diseret ke pengadilan HAM karena melakukan kejahatan HAM di Abepura, Papua. Mereka akhir juga bebas. Juga para perwira tentara yang melakukan kejahatan HAM terhadap komunitas muslim Tanjung Priok, Jakarta, mereka akhirnya bebas. Sekarang ada tuntutan pengadilan HAM bagi para perwira yang terlibat dalam pembantaian mahasiswa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II. Tapi proses ke arah pengadilan ini terhambat oleh DPR yang terlalu dini menolak pembentukan pengadilan HAM Ad Hoc untuk kasus tersebut dengan alasan tidak ada pelanggaran HAM. (Menurut UU Pengadilan HAM, pemberlakuan UU pengadilan HAM secara surut harus disetujui oleh paralemen). Penyelidikan terhadap kasus pengadilan paksa terhadap aktivis 1998, pembunuhan pada peristiwa Mei 1998 dan kasus-kasus lainnya, belum menunjukkan hasil.

Singkatnya, UU Pengadilan HAM justru menjadi sarana impunitas bagi para pelaku kejahatan HAM. Ketidakmampuan para anggota Komnas HAM dan sedikitnya wewenang yang diberikan kepada mereka membuat penyelidikan kasus-kasus kejahatan HAM berjalan lambat bagai kura-kura. Situasi semacam ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa masih banyak mantan perwira militer dan mantan birokrat Orde Baru yang menduduki kursi anggota Komnas HAM. Mereka ini telah membelokkan arah Komnas HAM. Kegiatan Komnas HAM umumnya hanyalah seperti seminar, workshop, training dan proyek-proyek basah lainnya. Aktivitas semacam itu telah membuat Komnas HAM menjadi semacam “macam ompong’. Kasus HAM yang juga tak kunjung selesai adalah kasus pembunuhan Munir. Namun kita tak perlu berkecil hati, karena saya yakin dan percaya, hukum di Indonesia akan semakin menguat seiring berkembangnya sumber daya manusia Indonesia.

demo1Contoh lain dampak reformasi dalam bidang hukum adalah kebebasan bagi warga keturunan China untuk merayakan Imlek. Sebelum reformasi, selama 30 tahun pemerintahan Orde Baru, warga keturunan China hanya bisa merayakan Imlek di rumah-rumah dan tidak bisa di tempat umum. Selain reformasi, kebebasan ini juga dikarenakan Indonesia sudah menandatangani International Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination, oleh karena itu harus konsekuen melaksanakannya di dalam sistem hukum. Selain itu reformasi juga berdampak pada kepastian beragama dan menjalankan kepercayaan. Akhir Februari 2006, Menteri Dalam Negeri Muhammad Ma’ruf mengeluarkan surat bernomor 470/336/SJ yang memerintahkan agar Gubernur, Bupati, dan Walikota se Indonesia memberikan pelayanan administrasi kependudukan kepada penganut agama Konghucu dengan menambah keterangan agama Konghucu pada dokumen kependudukan yang digunakan selama ini. Ini merupakan angin segar bagi penganut Konghucu yang dulu sering mengalami diskriminasi. Kini agama yang dianut di Indonesia dapat lebih beragam dan lebih bervariasi sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Namun, kebebasan ini seringkali mengalami penyimpangan dan menimbulkan perpecahan.

Seperti kasus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang baru-baru ini ramai dibicarakan. Pada tanggal 9 Juni 2008 telah muncul regulasi Surat Keputusan Bersama (SKB) yang melarang segala bentuk kegiatan keagamaan JAI, SKB ini sebagai bagian dari keinginan negara untuk mengikuti prosedur tertib hukum. Namun bukan berarti dengan munculnya SKB, JAI secara otomatis terlarang, karena tidak terdapat poin klausul keputusan dalam SKB itu yang menyatakan bahwa JAI adalah terlarang di Indonesia. SKB ini hanya ‘langkah awal’ dari sebuah prosedur hukum yang harus dilalui negara sebelum akhirnya, jika memang poin-poin yang berisi peringatan dan perintah ada dalam SKB itu tidak diindahkan oleh JAI, maka dalam prosedural hukum dalam UU PNPS No. 1/tahun 1965, hanya Presiden yang dapat membubarkan dan menyatakan suatu organisasi atau aliran sebagai terlarang sesuai dengan Pasal 2 Ayat 2 UU itu. Itupun dengan syarat bahwa penyelewengan yang dilakukan oleh aliran atau organisasi itu mempunyai efek yang cukup serius bagi masyarakat yang beragama sebagaimana tertuang dalam penjelasan atas UU tadi.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa reformasi berperan penting dalam perjalanan hukum di Indonesia. Sejak reformasi 1998, UU di Indonesia banyak mengalami bongkar pasang sebagai akibat dari kebebasan rakyat Indonesia dalam mengemukakan pendapat dan aspirasinya. Reformasi hukum telah menelurkan banyak UU, mulai UU anti korupsi, UU yang mengatur masalah HAM, kebebasan beragama dan lain sebagainya. Reformasi hukum memberikan dampak positif dan juga beberapa dampak negatif. Karena itu diperlukan campur tangan pemerintah dalam menyelaraskan alat, perangkat dan pejabat dalam bidang hukum, agar tercipta sinergi yang baik yang dapat menciptakan hukum yang adil dan merata.

Reformation, like education, is a journey, not a destination

-Mary B. Harris