belajar leadership dari Sang BUDDHA

lead

Aku bukan pemeluk agama Budha, tapi aku senang membaca buku-buku ajaran Budha. Berikut ini kujabarkan gaya kepemimpinan Budha yang kupetik dari beberapa artikel yang beredar di internet. Selamat membaca…

Sebagai pemimpin, Buddha tidak membuat orang-orang tergantung kepada-Nya. Kepemimpinan yang ditunjukkan Buddha adalah bagaimana membuat orang yang dipimpin meningkatkan kualitas dirinya. Berlindung kepada Buddha pun tak lain dari menjadikan Buddha sebagai pembawa inspirasi, penuntun hidup, bahkan tujuan hidup.

Dengan menghormati Buddha dan nilai-nilai kebuddhaan, umat mendapat dorongan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur, mengambil cinta kasih dan kebijaksanaan Buddha sebagai teladan, dan bekerja keras untuk menjadi sama seperti Buddha. Disadari atau tidak, tiap manusia dapat menjadi Buddha. Manusia memiliki hakikat Buddha atau benih Buddha. Dalai Lama melihatnya sebagai Buddha Kecil, istilah yang dipopulerkan Bernardo Bertolucci melalui filmnya, Little Buddha.

Kebanyakan orang ingin menaklukkan orang lain, Buddha mengajarkan agar kita menaklukkan diri sendiri. Kebanyakan orang mengejar jabatan dan kekayaan. Yang berpeluang dan berjuang, atau bermimpi, semua ingin menjadi penguasa.

Tidak demikian dengan Buddha. Setelah menjadi Buddha, Dia mudah menduduki takhta dan menggunakan kekuasaan pemerintahan untuk menyiarkan agama. Tetapi itu tidak dilakukan. Menurut Buddha, ada yang lebih baik dari kekuasaan di Bumi, lebih baik daripada memerintah seluruh jagat, yaitu kemuliaan memenangi tingkat kesucian.

Pandangan ini tidak menunjukkan Buddha menyangkal perlunya kekuasaan pemerintahan. Dia amat dihormati raja-raja dari berbagai negara dan mengajarkan bagaimana memimpin negara dengan baik, cinta damai, dan menempatkan kesucian di atas kekuasaan dan kekayaan.

Menurut Buddha, pemimpin harus memenuhi sepuluh kewajiban. Etika kekuasaan menyentuh semua kewajiban ini.

Kewajiban pertama mengenai kemurahhatian. Dalam hidup kenegaraan, penguasa bertanggung jawab memelihara dan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan kemampuan menjamin keselamatan ekonomi negara.

Kedua, pemimpin harus memiliki moral yang baik sehingga pantas dijadikan teladan dan dijunjung.

Ketiga, sedia berkorban dengan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Keempat, integritas atau tulus, jujur, dapat dipercaya, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih.

Kelima hingga kesembilan adalah kebaikan hati tanpa mengabaikan tanggung jawab dan keadilan, hidup sederhana, bebas dari amarah, tanpa kekerasan, dan sabar.

Kesepuluh, tidak boleh bertentangan dengan kebenaran atau melawan kehendak rakyat. Terpenuhinya hal-hal ini akan membuat penguasa berwibawa dan kuat posisinya dalam kehidupan berbangsa yang demokratis.

Oleh karena itu, untuk memilih seorang pemimpin, latar belakang kehidupan pribadi dan bagaimana moral orang yang dicalonkan sepatutnya disorot secara terbuka.

Buddha mengingatkan, ada empat penyebab kemerosotan, yang dalam konteks kenegaraan diterjemahkan oleh Aung San Suu Kyi sebagai berikut: Ada yang hilang, yaitu hak-hak demokratis yang diambil oleh kediktatoran militer, dan berbagai usaha belum cukup untuk mendapatkannya kembali. Ada yang rusak, yaitu nilai-nilai moral dan politik yang dibiarkan memburuk. Ada pemborosan karena perekonomian diurus secara ceroboh. Yang terakhir menyangkut moral pemimpin. Krisis politik terjadi saat negara dikuasai orang-orang yang tidak memiliki integritas dan kebijaksanaan. Salah memilih pemimpin akan membuat kita semakin terperosok dalam kemerosotan.

Ketika kita menginginkan reformasi terus bergulir melalui pemilu dan pemilihan presiden, momentum merayakan Waisak sepantasnya digunakan untuk mengingatkan bahwa ada yang lebih baik dari kekuasaan dan kekayaan, yaitu kesucian. Dan, tidak ada kesucian di luar kebenaran.

Jika seseorang berbicara dan berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya.

Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas: Berusaha menolong semua makhluk. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

RINGKASAN:

Mau menerima nasihat atau kritik dari orang lain. Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya.

Kemauan yang keras membaja. “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna.” (saat digoda setan dan lelah bersemedi).

Empowering bawahan. Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa Buddha berkelana menyebarkan Dharma selama 45th lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya akan wafat, Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswa-Nya karena mengandung prinsip-prinsip beragama, seperti Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha; Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup; Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi; Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran; Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang; Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan; Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha. Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia; Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani; Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna; Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran; Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha; Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.

Memotivasi bawahan. Sang Buddha bersabda, “Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!”

Tunjukkan loyalitas pada bawahan. Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna) yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, “Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku.” Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.

Mahatma Gandhi

saltpickupSalah satu sosok manusia yang aku kagumi adalah Mahatma Gandhi. Aku kagum pada karisma, nilai, prinsip dan kesederhanaannya. Ia selalu menolak berpergian kemanapun, kecuali dengan berjalan kaki atau naik kereta kelas tiga dan mengasingkan diri dalam kesederhanaan. Ia nikmati dingin dan kejamnya sinar matahari di musim panas sebagaimana dialami rakyatnya guna mempertajam kecerdasan emosional, sosial dan spritualnya. Ia percaya semakin murni penderitaan, semakin besar kemajuan. Ia memimpin tanpa memaksa, tapi dengan mengajak. Ia dekat dengan orang miskin, mendengarkan keluh kesah mereka, membantu mereka semampunya, tanpa mengumbar janji-janji palsu.

Pinsip Gandhi yang paling ngetop adalah satyagraha, sering diterjemahkan sebagai “jalan yang benar” atau “jalan menuju kebenaran”, telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).

Selain itu Gandhi juga berpesan agar kita menghindarkan tujuh dosa orang-orang yang melanggar prinsip dan menoda hati nuraninya: Kekayaan tanpa kerja, Kenikmatan tanpa suara hati, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa etika, Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, Agama tanpa pengorbanan dan Politik tanpa prinsip.

Tapi siapa sebenarnya Gandhi? Gandhi adalah seorang India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Selesai Perang Dunia I, Gandhi memutuskan untuk meninggalkan semua kemewahannya di Afsel dan kembali ke India (1917) untuk berjuang. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung dan berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat: ”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,” kata Gandhi sambil menyampaikan salam khas bangsa India, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. Pidatonya begitu pendek, karena Ia bukan seorang politikus yang biasa mengumbar janji, tetapi seorang pemimpin yang tahu diri dan rendah hati. Ia mengaku tidak mungkin berbicara banyak karena tidak mengerti negerinya.

Gandhi kembali ke India untuk memperjuangan kemerdekaan India dari jajahan Inggris dan untuk menjaga keutuhan India, di mana kala itu rakyat India dari agama dan suku yang berbeda menuntut agar India dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Pada 1947, akhirnya India merdeka dari Inggris, tapi India juga terpecah menjadi dua negara –India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Apalagi pemisahan ini mengakibatkan kerusuhan merebak di seluruh penjuru India dan memakan banyak korban jiwa, di mana dalam waktu satu minggu ½ juta manusia tewas. Gandhi yang renta bersumpah untuk berpuasa hingga kerusuhan berhenti, dan hal itu dilakukannya hingga membahayakan kesehatannya sendiri. Perjuangan Gandhi ini mendapat perhatian dunia. Akhirnya Inggris kembali untuk membantu mengembalikan keadaan. Dan akhirnya keadaan kembali aman. Setelah India kembali aman dan bersatu, Gandhi ditawarkan tampuk kepemimpinan, namun Ia menolak tawaran tersebut. Karena menurut Gandhi, ambisinya adalah menjaga agar India tetap SATU, ambisinya bukanlah menjadi seorang PENGUASA INDIA.

Ya begitulah Gandhi. Berambisi, tapi tidak ambisius. Semoga kisah Gandhi ini dapat menginspirasi kita semua.

K A R M A

“Dosa adalah harga diri, harus dibayar dengan balas dendam”.

falllu4

Ucapan ini adalah buah dari pikiran dangkal!! Aku rasa balas dendam itu ga ada gunanya. Bila kita disakiti orang, lalu kita balas menyakiti orang itu, kemudian orang itu balas lagi menyakiti kita, lalu kita balas lagi… Duh kapan selesainya donk? Jadinya kayak lingkaran setan.

Apa kalian percaya karma?

Kalo saya pribadi sih percaya. Aku pernah nonton film Andy Lau yang berjudul “running on karma”.. Ini bagus banget.

Ceritanya Andy Lau adalah seorang biksu yang bisa melihat karma seseorang. Suatu hari saudaranya dibunuh oleh orang gila, lalu orang gila itu kabur masuk ke dalam hutan. Andy Lau marah sekali mengetahui saudaranya dibunuh, Andy Lau merasa sangat dendam, lalu Ia meluapkan kemarahannya dengan mencabik daun di pohon dengan pedang. Tiba-tiba ada seekor burung kecil tak berdosa yang kena cabik, burung itu pun mati. Mendadak Andy Lau termangu, dia sangat menyesali perbuatannya. Ia tahu bahwa dia di kehidupan selanjutnya pasti akan seperti burung itu, Ia akan mati dengan cara dicabik-cabik.

Lalu Andy Lau yang despret memutuskan untuk melepas jubah biksunya dan pergi berkelana ke Hongkong. Suatu hari Ia bertemu dengan polisi cantik yang diperankan oleh Cecilia Cheung. Andy Lau melihat karma Cecilia. Di kehidupan lalu, Cecilia adalah seorang tentara Jepang kejam yang gemar memenggal kepala orang. Maka nantinya Cecilia juga akan mati dengan kepala terpenggal. Andy Lau merasa bahwa hidup ini tidak adil. Cecilia di kehidupan sekarang adalah gadis manis yang baik hati, kenapa harus menanggung perbuatan Tentara Jepang dari kehidupan sebelumnya. Andy Lau terus menerus mengutuk Tuhan.

Cerita terus bergulir, Andy Lau makin akrab dengan Cecilia. Sampai suatu hari Cecilia benar-benar mati, kepalanya dipenggal dan ditaruh di pohon. Yang membunuh Cecilia adalah orang gila yang juga membunuh saudara Andy Lau.

Andy Lau makin dendam sama orang gila itu. Andy Lau pergi ke hutan, selama empat tahun Ia terus menerus mencari orang itu. Sampai suatu hari akhirnya dia menemukan apa yang Ia cari. Kemudian saat Andy Lau hampir membunuh itu orang, tiba-tiba Andy Lau KAGET BANGET.

Wajah orang gila itu sama dengan wajahnya. Loh kok bisa?

Karena orang gila itu adalah dendam yang ada di dalam hati Andy Lau. Bila dendam terus melekat, maka hidup tak akan pernah bahagia. Andy Lau juga tersadar, bila Ia membunuh orang gila itu, maka di kehidupan mendatang, Andy Lau juga akan dibunuh dengan cara yang sama.

Pesan moral di sini adalah, meskipun kita yang sekarang harus mengalami karma dari perbuatan kita di kehidupan yang lalu, kita tidak perlu risau. Yang perlu kita lakukan adalah jalanilah kehidupan kita sekarang ini dengan banyak berbuat kebaikan dan kebajikan. Agar di kehidupan mendatang, kita bisa mendapatkan karma baik.

Akhir dari cerita, Andy Lau tidak jadi membunuh orang gila itu. Andy Lau memaafkannya.